Minggu, 30 Oktober 2011

Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan
















Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan PDF Cetak E-mail


LAHIRNYA lembaga pendidikan Islam unggulan dewasa ini merupakan buah dari gagasan modernisasi Islam di Indonesia. Pembaruan pemikiran Islam dan pelaksanaan pendidikan Islam di tanah air tidak selalu sejalan lurus dengan cita-cita dan semangat ajaran Islam. Islam selain dipahami sebagai ajaran ritual dan sumber nilai, juga sebagai sumber ilmu pengetahuan dan peradaban umat manusia. Seperti yang pernah diungkapkan oleh HAR. Gibb, bahwa “Islam is indeed much more than a system of teology, if is complete civilization” (Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap).[1] Pernyataan tersebut, berarti Islam merupakan agama yang aktual, relevan dengan segala urusan manusia, termasuk di bidang pendidikan.
Dalam konteks Indonesia, lembaga pendidikan Islam unggulan (madrasah dan sekolah Islam) telah menemukan momentumnya pada akhir abad ke 20. Meskipun pada awal abad tersebut telah muncul beberapa model lembaga pendidikan Islam dengan format dan tampilan yang berbeda, untuk tidak mengatakan modern, dari karakteristik lembaga pendidikan Islam yang ada sebelumnya, misalnya lembaga pendidikan dibawah naungan organisasi Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama’.
Secara umum lembaga pendidikan Islam unggulan diformat dengan model dan gaya modern yang mengadopsi sisi-sisi meritokrasi dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan tradisional atau konvensional sebelumnya. Bahkan, lembaga pendidikan Islam unggulan mencoba menawarkan bentuk sintesa baru yang mengkolaborasi antara tujuan pendidikan umum dengan tujuan pendidikan (agama) Islam yang sepadan. Bentuk sintesa ini kemudian diiringi dengan dukungan kualitas akademik, sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, sumber pendanaan yang kuat serta penciptaan lingkungan yang baik.
Kalau melihat gejala dan nuansa kebangkitan lembaga pendidikan Islam unggulan (madrasah dan sekolah Islam) nampaknya pada wilayah praksis baru muncul tahun 1980-an atau 1990-an. Baik madrasah maupun sekolah Islam unggulan mengadopsi dari sistem pendidikan umum, yang hal itu merupakan warisan dari sistem pendidikan kolonial Belanda, melalui modernisasi dari para pelaku dan praktisi pendidik orang muslim dengan menambahkan porsi materi agama Islam lebih banyak.
Eksistensi madrasah dan sekolah Islam unggulan tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan dan tuntutan modernisasi, kemajuan globalisasi dan informasi. Hadirnya lembaga pendidikan Islam unggulan dalam konstelasi nasional sempat memancing perhatian dan perbincangan dari berbagai pakar dan ahli pendidikan untuk menangkap makna terhadap gejala dan fenomena yang terpendam dibalik itu. Hal ini wajar, karena sistem pendidikan nasional masih dianggap belum mampu menunjukkan mutu pendidikan yang signifikan.
Mencuatnya resesi moral (akhlak), perkelahian, tindak anarkhis, serta berbagai tindakan menyimpang dikalangan pelajar merupakan reasoning (pemikiran) tersendiri bagi para pelaku pendidikan untuk menghadirkan madrasah dan sekolah Islam unggulan. Wajah baru lembaga pendidikan Islam Unggulan tersebut, selain ingin menampilkan lulusan yang unggul di bidang akademiknya, juga unggul di bidang akhlak dan spiritualnya. Untuk meraih kedua misi tersebut diperlukan ”wadah baru” berupa madrasah atau sekolah Islam yang benar-benar memberikan corak dan ciri khas yang kuat dan handal dari segala lingkup dan komponennya.
Defenisi Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan
Sebelum mendefinisikan madrasah atau sekolah Islam unggulan, terlebih dahulu penulis ingin mengemukakan tentang beberapa sebutan istilah atau term yang barangkali memiliki makna hampir serupa. Kata lain dari ”unggulan” seringkali disebuat dengan istilah ”model” atau ”percontohan”. Selain itu juga ada yang memakai istilah ”terpadu”, ”laboratorium” atau ”elite”.
Beberapa lembaga pendidikan Islam ada yang lebih senang memakai istilah ”model” ketimbang ”unggulan”. Sehingga wajar saja kalau ada istilah ”sekolah/madrasah model”, ”sekolah/madrasah percontohan”, atau ”sekolah/madrasah terpadu”. Madrasah atau sekolah Islam model (unggulan) merupakan representasi dari kebangkitan umat Islam untuk kalangan menengah.[2]
Dari segi pelabelan namanya, nampak sudah jelas dapat ditebak bahwa sekolah atau madrasah model (unggulan) semacam itu tampil dengan penuh visi dan inspirasi yang mengundang penasaran banyak orang. Dari segi nama, tampaknya lebih gagah dan menjanjikan kualitas masa depan para murid.
Istilah sekolah unggul pertama kali diperkenalkan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro, tepatnya setahun setelah pengangkatannya, tahun 1994. Istilah sekolah unggul lahir dari satu visi yang jauh menjangkau ke depan, wawasan keunggulan. Menurut Wardiman, selain mengharapkan terjadinya distribusi ilmu pengetahuan, dengan membuat sekolah unggul ditiap-tiap propinsi, peningkatan SDM menjadi sasaran berikutnya. Lebih lanjut, Wardiman menambahkan bahwa kehadiran sekolah unggul bukan untuk diskriminasi, tetapi untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan memiliki wawasan keunggulan.[3]
Di lingkungan kementerian agama, definisi madrasah unggulan adalah madrasah program unggulan yang lahir dari sebuah keinginan untuk memiliki madrasah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ditunjang oleh akhlakul karimah. Sementara sekolah Islam unggulan adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran (out put) pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut, maka masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Menurut Moedjirto, setidaknya dalam praktik dilapangan terdapat tiga tipe madrasah atau sekolah Islam unggulan. Pertama, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada anak cerdas. Tipe seperti ini sekolah atau madrasah hanya menerima dan menyeleksi secara ketat calon siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Meskipun proses belajar-mengajar di lingkungan madrasah atau sekolah Islam tersebut tidak terlalu istimewa bahkan biasa-biasa saja, namun karena input siswa yang unggul, maka mempengaruhi outputnya tetap berkualitas.
Kedua, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada fasilitas. Sekolah Islam atau madrasah semacam ini cenderung menawarkan fasilitas yang serba lengkap dan memadahi untuk menunjang kegiatan pembelajarannya. Tipe ini cenderung memasang tarif lebih tinggi ketimbang rata-rata sekolah atau madrasah pada umumnya. Untuk tingkat dasar, madrasah atau sekolah Islam unggulan di Kota Malang, misalnya, rata-rata uang pangkalnya saja bisa sekitar lebih dari 5 hingga 10 juta. Biaya yang tinggi tersebut digunakan untuk pemenuhan sarana dan prasarana serta sejumlah fasilitas penunjang lainnya.
Ketiga, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasi pada iklim belajar. Tipe ini cenderung menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah/madrasah. Lembaga pendidikan dapat menerima dan mampu memproses siswa yang masuk (input) dengan prestasi rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi. Tipe ketiga ini termasuk agak langka, karena harus bekerja ekstra keras untuk menghasilkan kualitas yang bagus.[4]
Dari uraian di atas dapat didefinisikan bahwa sekolah Islam atau madrasah unggulan adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki komponen unggul, yang tercermin pada sumber daya manusia (pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa) sarana prasarana, serta fasilitas pendukung lainnya untuk menghasilkan lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara terampil, memiliki kekokohan spiritual (iman dan/atau Islam), dan memiliki kepribadian akhlak mulia.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
[1] Ungkapan tersebut dikutip oleh M. Natsir dari HAR. Gibb pada salah satu karyanya berjudul “Whiter Islam”. Lihat dalam M. Natsir, Kapita Selekta (Jakarta: Bulan Bintang, 1954) Hal. 15.
[2] Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta, Logos, 1999) hal. 69-75.
[3] SINERGI, Jurnal Populer Sumber Daya Manusia, Volume 1, No. 1 Januari-Maret 1998. Hal. 15.
[4] Moedjiarto, Sekolah Unggul, (Surabaya: Duta Graha Pustaka, 2002). Hal 34.
 

Sejarah Pendidikan Islam – Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia/Nusantara

Sejarah Pendidikan Islam – Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia/Nusantara

Makalah Ushul Fiqh - Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh
Sejarah Pendidikan Islam – Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara. Di postingan kali ini saya akan coba share salah satu makalah yang termasuk kedalam kategori mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam dan alhamdulillah di lokal kami PAI Extension semester II STAI Bengkalis mata kuliah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag ini telah memenuhi jumlah pertemuan dan seluruh bahasan telah selesai disampaikan. Dan pertemuan terakhir kami kemarin dalam proses penyampaiannya lokal PAI Extension di gabung dengan PBI Extension, salah satu makalah Sejarah Pendidikan Islam yang tampil pada saat itu berjudul Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara. Makalah Sejarah Pendidikan Islam ini disampaikan oleh Sumarni dan Aan Susilawati.
BAB I
PENDAHULUAN
Semenjak manusia diciptakan oleh Allah swt, ilmu pengetahuan merupakan bekal utama manusia dalam mengarung kehidupan didunia ini. Setelah adam diturunkan kebumi, maka ilmu pengetahuan pun berkembang sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri. Sejarah membuktikan bahwa era perkembangan manusia ditandai zaman batu, perunggu, emas dan lainnya. Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap. Tujuannya selain dari memperkuat khazanah ilmu pengetahuan yang bernuansa keislaman, juga sebagai bahan rujukan dan perbandingan bagi para pengelola pendidikan Islam pada masa-masa berikutnya.hal ini sejalan dengan prinsip yang umumnya dianut masyarakat Islam Indonesia, yaitu: mempertahankan tradisi masa lampau yang masih baik.dengan cara demikian upaya pengembangan lembaga pendidikan Islam, lembaga pendidikan Islam telah berperan sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya.
Sedangkan dilihat dari segi sosial pada saat itu, perkembangan lembaga pendidikan dan tradisi keilmuan berjalan dengan pesat, baik ketika pemerintahan dalam kondisi yang baik maupun dalam kondisi merosot. Karena kemajuan lembaga pendidikan tidak terlepas dari keterlibatan pemerintah. Dan rata-rata khalifah yang memiliki keendrungan atau kecintaan terhadap ilmu pengetahuan selalu meninggalkan kemajuan dalam peradaban Islam. Dan yang menarik lagi adalah para intelektual Islam secara langsung atau praktis tidak terlibat dalam kegiatan politik, namun lebih memilih melalui teoritis. Inilah kunci kesuksesan mereka, sebab dengan ketidakterlibatannya maka mereka lebih konsen, aman dan damai dalam melakukan aktifitas keilmuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam di nusantara.
BAB II
LEMBAGA-LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
A. SURAU
Istilah surau di minangkabau sudah dikenal sebelum datangnya Islam. Surau dalam system minangkabau adalah kepunyaan suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berpungsi sebagai tempat bertemu, berkumpul, rapat dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah akil baligh dan orang tua yang uzur. Fungsi surau ini semakin kuat karna struktur masyarakat minangkabau yang menganut system matrilineal. Menurut ketentuan bahwa laki-laki tak punya kamar dirumah orang tuanya, sehingga mereka diharuskan untuk tidur disurau. Kenyataan ini menyebabkan surau menjadi tempat penting pendewasaan generasi Minangkabau, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan lainnya.
Fungsi surau tidak berubah setelah kedatangan islam, hanya saja fungsi keagamaannya semakin penting yang diperkenalkan pertama kali syekh Burhanuddin sebagai tempat mengajarkan ajaran Islam khususnya tarekat (suluk). Sebagai lembaga pendidikan tradisional, surau menggunakan system pendidikan halaqoh. Materi pendidikan yang diajarkan pada awalnya masih di seputar belajar huruf hijaiyah dan membaca Al-quran. Di samping ilmu-ilmu keislaman lainnya. Seperti keislaman, akhlak dan ibadah, pada umumnya pendidikan ini dilaksanakan pada malam hari. Secara bertahap, eksistensi surau sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami kemajuan. Ada dua jenjang pendidikan surau pada era ini, yaitu:
1. Pengajian kitab
Materi pendidikan pada jenjang ini meliputi, ilmu sharap dan ilmu nahu, ilmu fikih, ilmu tafsir dan ilmu-ilmu lainnya. Cara mengajarkannya adalah dengan membaca sebuah kitab arab dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Pada masa awal, kitab yang dipelajari pada masing-masing materi pendidikan masih mengacu pada satu kitab tertentu. Setelah ulama Minangkabau yang belajar di timur tengah kembali ke tanah air, sumber yang digunakan mulai mengalami pergeseran. Kitab yang digunakan pada setiap materi pendidikan sudah bermacam-macam.
Metode pendidikan yang digunakan di surau bila dibandingkan dengan metode pendidikan modern, sesungguhnya metode pendidikan surau memiliki kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya terletak pada kemampuan menghafal muatan teoritis keilmuan. Sedangkan kelemahannya terdapat pada lemahnya kemampuan memahami dan menganalisis teks, disisi lain metode pendidikan ini diterapkan secara keliru, siswa banyak yang bisa membaca dan menghafal isi suatu kitab, akan tetapi tidak bisa mengerti apa yang dibaca dan di hafalnya itu.
Untuk memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai ajaran agama Islam. Maka Syekh Abdurrahman mendirikan surau yang terkenal dengan surau dagang. Di surau inilah Syekh Abdurrahman mengajarkan Al-quran dengan berbagai macam irama dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
2. Pengajaran Al-quran
Untuk mempelajari al-quran ada dua macam tingkatan:
1. Pendidikan rendah, yaitu pendidikan untuk memahami ejaan huruf Al-quan dan membaca Al-quran. Disamping itu juga dipelajari cara berwudhu’ dan tata cara shalat yang dilakukan dengan metode praktik dan menghapal.
2. Pendidikan atas, yaitu pendidikan membaca Al-quran dengan lagu, kasidah, berzanji, dan tajwid.
Lama pendidikan dikedua jenis pendidikan tersebut tidak ditentukan. Seorang siswa baru dikatakan tamat bila ia telah mampu menguasai materi-materi di atas dengan baik.
B. MEUNASAH
Meunasah merupakan pendidikan Islam terendah. Meunasah berasal dari kata Arab madrasah. Meunasah merupakan suatu bangunan yang terdapat di setiap kampung atau desa. Bangunan ini seperti rumah, tetapi tidak mempunyai jendela dan bagian-bagian lain. Bangunan ini digunakan sebagai tempat belajar dan berdiskusi serta membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan.
Meunasah secara fisik adalah, bangunan rumah panggung yang di buat pada setiap kampung. Dan di antara fungsi meunasah adalah:
1. Sebagai tempat upacara keagamaan, penerimaan zakat dan tempat penyalurannya, tempat musyawarah dan sebagainya,
2. Sebagai lembaga pendidikan Islam dimana diajarkan pelajaran membaca Al-quran. Pengajian bagi orang dewasa diadakan pada malam hari tertentu dengan metode ceramah satu bulan sekali.
Dalam perkembangan lebih lanjut, meunasah bukan hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, melainkan juga sebagai tempat pendidikan, tempat pertemuan, bahkan juga sebagai tempat jual beli barang-barang yang tak bergerak. Lama pendidikan di meunasah tidak ada batasan tertentu. Umumnya pendidikan berlangsung selama dua sampai sepuluh tahun. pengajaran biasanya berlangsung malam hari, biasanya pelajaran diawali dengan mengajarkan huruf hijaiyah dengan metode mengenal huruf kemudian merangkai huruf. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca juz amma, sambil menghafalkan surat-surat pendek. Kemudian baru ditingkatkan dengan membaca Al-quran besar di lengkapi dengan tajwidnya.
Belajar di meunasah tidak di pungut bayaran, karena mengajar dianggap ibadah. keberadaan meunasah sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar sangat mempunyai arti di Aceh, semua orang tua memasukkan anaknya ke meunasah. Dengan kata lain meunasah merupakan madrasah wajib belajar bagi masyarakat Aceh masa lalu. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila orang Aceh mempunyai fanatisme agama yang tinggi.
C. PESANTREN
Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata santri, yang menunjukkan tempat. Dengan demikian pesantren artinya tempat para santri. Sedangkan menurut Sudjoko Prasodjo,pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab dan para santri tinggal di asrama.
Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat, karena pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga keberadaannya di tengah masyarakat tidaklah terasa asing. Dalam waktu yang sama segala aktifitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi penuh dari masyarakat sekitarnya. Dari persfektif kependidikan, pesantren merupakan satu-satunya lembaga kependidikan yang tahan terhadap berbagai gelombang modernisasi. Sejak dilancarkan perubahan atau modernisasi pendidikan Islam di berbagai dunia Islam, tidak banyak lembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan.
Di sisi lain, ciri-ciri pesantren berikut unsur-unsur kelembagaannya tidak bisa dipisahkan dari sistem kultural dan tidak dapat pula diletakkan pada semua pesantren secara uniformitas karena setiap pesantren mempunyai keunikannya masing-masing. Tetapi pesantren secara umum memiliki karakteristik pesantren itu dari segi:
a. Materi pelajaran dan metode pengajaran
Sebagai lembaga pendidikan islam, pesantren pada dasarnya hanya mengajarkan agama.sedangkan kajian atau mata pelajarannya ialah kitab-kitab dalam bahasa Arab (kitab tafsirnya kuning). Pelajaran agama yang dikaji di pesantren ialah Al-quran dengan tajwid dan, aqa’id dan ilmu kalam,  fikih dan usul fikih , tarikh, tasawuf dan sebagainya.
b. Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan dalam pesantren tidak dibatasi seperi dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memakai sistem klasikal.umumnya kenaikan tingkat seorang santri ditandai dengan tamat dan bergantinya kitab yang dipelajari.
c. Fungsi pesantren
Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran keagamaan.sebagai lembaga pendidikan pesantren menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal. Dan sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membedakan status.
d. Kehidupan kiai dan santri
Berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kiai yang menetap di suatu tempat. Kemudian datanglah santri yang ingin belajar kepadanya dan bermukim di tempat itu. Sedangkan biaya kehidupan dan pendidikan disediakan bersama-sama oleh para santri dengan dukungan masyarakat dan sekitarnya.
Usaha-usaha pendidikan agama di masyarakat, yang kelak dikenal dengan pendidikan non formal ternyata mampu menyediakan kondisi yang sangat baik dalam menunjang keberhasilan pendidikan Islam dan memberikan motivasi yang kuat bagi umat Islam untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih baik dan lebih sempurna. Tempat-tempat pendidikan Islam seperti inilah yang menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam yang formal yang berbentuk madrasah atau sekolah yang berdasarkan keagamaan.
Sesuai dengan namanya, maka pondok berarti tempat menginap dan tempat para santri mengaji agama Islam dan sekaligus diasramakan di tempat itu. Murid-muridnya yang tinggal di pesantren itu bermacam-macam sebagai satu keluarga dibawah pimpinan gurunya. Mereka belajar hidup sendiri, mencuci sendiri dan mengurus hal ikhwalnya sendiri.di pesantren ini,murid-murid besar dan kecil duduk melingkar (halaqoh) mengelilingi pak kyai. Mereka menerima pelajaran yang sama, terserahkan kepada murid untuk memilih bidang pengetahuan apa yang akan mereka pelajari dan pada tingkat pelajaran mana mereka ingin memulai.
Eksistensi kiai dalam pesantren merupakan lambang kewahyuan yang selalu disegani, dipatuhi dan di hormati secara ikhlas. Para santri dan masyarakat sekitar selalu berusaha agar dapat dekat dengan kiai untuk memperoleh berkah, sebab menurut anggapan mereka kiai memiliki kedudukan yang tak terjangkau, yang tak dapat sekolah dan masyarakat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam.
Dilihat dari proses tranformasi, sekurang-kurangnya pesantren dapat dibedakan menjadi tiga corak, yang pertama yaitu pesantren tradisional. Pesantren yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya dalam arti tidak mengalami transformasi yang berarti dalam sistem pendidikannya tidak ada inovasi yang menonjol. Kedua pesantren tradisional, corak pendidikan pada pesantren ini sudah mulai mengadopsi sistem pendidikan modern tetapi tidak sepenuhnya. Prinsip selektifitas untuk menjaga nilai tradisional masih terpelihara. Manajemen dan administrasi sudah mulai ditata secara modern meskipun sistem tradisionalnya masih dipertahankan. Sudah ada semacam yayasan dan biaya pendidikan sudah mulai di pungut. Ketiga pesantren modern, pesantren corak ini telah mengalami transformasi yang sangat signitifikan baik dalam sistem pendidikan maupun unsur-unsur kelembagaannya. Materi pelajaran dan metodenya sudah sepenuhnya menganut sistem modern. Pengembangan bakat dan minat sangat diperhatikan sehingga para santri dapat menyalurkan bakat dan minatnya secara proporsional .
D. MADRASAH
Kalau dicermati istilah madrasah dari aspek derivasi kata, maka madrasah merupakan isim makan dari kata darasa yang berarti belajar. Jadi, madrasah berarti tempat belajar bagi siswa atau mahasiswa (umat Islam). Dalam sejarah pendidikan Islam, makna dari madrasah tersebut memegang peran penting sebagai institusi belajar umat Islam selama pertumbuhan dan perkembangannya. Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas Islam banyak menarik perhatian berkenaan dengan cita-cita pendidikan nasional. hal itu disebabkan karena jumlah peserta didiknya yang signitifikan, akan tetapi juga karena karakteristiknya yang sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman.
Madrasah yang pertama didirikan di zaman Rasulullah saw, adalah Daar Al-Arqam di Mekkah dan guru pertamanya adalah Rasulullah saw sendiri. Dan murid-murid pertamanya adalah para sahabat nabi terpilih. Pendidikan Islam secara kelembagaan tampak dalam berbagai bentuk yang bervariasi. Disamping lembaga yang bersifat umum seperti masjid, terdapat lembaga yang mencerminkan kekhasan orientasinya. pada abad ke-14 hijriyah dikenal beberapa sistem pendidikan madaris al-tarbiyah Islam. Kajian tentang madrasah oleh seorang peneliti, selama ini masih berkutat pada aspek madrasah sebagai institusi pendidikan Islam dilihat dari aspek historis, namun kajian yang dikaitkan dengan yang dikaitkan dengan aspek sosial bisa dikatakan masih kurang. Dinamika madrasah yang tumbuh dan berakar dari kultur masyarakat setempat tidak akan luput dari dinamika dan peradaban masyarakat (change of society). Ini berarti masyarakat dan madrasah tidak dapat di pisahkan, keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Masing-masing harus memberikan kontribusi. Di satu sisi masyarakat harus memberikan dukungan baik berupa materil maupun ide-ide dan pikiran agar madrasah tetap survive dan maju. Sementara itu, Madrasah harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri baik kualitas output maupun kajian-kajian keislaman serta mampu mengimbangi dinamika masyarakat setempat.
Sejarah dan berkembangnya madrasah akan dibagi dalam dua periode,yaitu:
1) Periode sebelum kemerdekaan
Pendidikan dan pengajaran agama Islam dalam bentuk pengajian Al-quran dan pengajian kitab yang diselenggarakan di rumah-rumah surau, masjid, pesantren dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bentuk baik dari segi kelembagaan, materi pengajaran, metode maupun struktur organisasinya, sehingga melahirkan suatu bentuk baru yang disebut madrasah. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berfungsi menghubungkan sistem baru dengan jalan mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu, teknologi dan ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Latar belakang pertumbuhan madrasah di Indonesia dapat di kembalikan pada dua situasi,yaitu:
• Gerakan pembaruan Islam Indonesia
Gerakan pembaruan Islam di Indonesia muncul pada awal abad ke-20 yang dilatarbelakangi oleh kesadaran dan semangat yang kompleks sebagaimana diuraikan oleh Karel A Steenbrink dengan mengidentifikasi empat faktor yang mendorong gerakan pembaruan Islam di Indonesia, antara lain:
a. Keinginan untuk kembali kepada Al-quran dan hadits
b. Semangat nasionalisme dalam melawan penjajah
c. Memperkuat basis gerakan sosial, budaya dan politik
d. Pembaruan pendidikan Islam Indonesia
• Respons pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia Belanda
Pertama kali bangsa Belanda datang ke nusantara hanya untuk bedagang, tetapi karena kekayaan alam nusantara yang sangat banyak maka tujuan utama untuk bedagang berubah untuk menguasai wilayah nusantara sekaligus dengan mengembangkan pahamnya yang terkenal dengan semboyan 3G yaitu, glory, gold dan gospel. Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan seara tradisional oleh kalangan Islam mendapat tantangan dan saingan berat, karena sekolah Hindia Belanda dilaksanakan dan dikelola secara modern terutama dalam hal kelembagaan, kurikulum, metodelogi, sarana dan lain-lain.
2) Periode sesudah kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuklah departement agama yang akan mengurus masalah keberagaman di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah.
Sungguh pun pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan lama dan mempunyai sejarah, namun pendidikan Islam masih tersisih dari sistem pendidikan nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dikeluarkannya SKB 3 menteri tanggal 24 maret 1975, yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream pendidikan nasional.
Keberadaan madrasah menjadi sangat menonjol oleh karena; pertama, pendidikan di madrasah selama ini seakan-akan tersisih dari mainstream pendidikan nasional, sekalipun berkenaan dengan pendidikan anak bangsa, kedua, madrasah sebagai pendatang baru dalam sistem pendidikan nasional relatif menghadapi berbagai kendala dalam hal mutu, manajemen dan kurikulumnya. Namun demikian madrasah masih mempunyai banyak potensi atau nilai-nilai positif yang dapat dikembangkan.
Keperhatian terhadap kualitas pendidikan di lembaga pendidikan Islam, baik sekolah umum maupun madrasah sudah muncul sejak lama jauh sebelum Indonesia merdeka. pemerintah kolonial Belanda justru mendirikan sekolah-sekolah umum yang diposisikan secara istimewa dan tidak memberi ruang yang proporsional bagi umat Islam untuk mengembangkan potensi sumber daya manusianya. Akibat dari perlakuan yang negatif dari pemerintah kolonial Belanda tersebut, maka pendidikan Islam termasuk madrasah menghadapi berbagai kesulitan dan terisolasi dari arus modernisasi. Meskipun keadaan tersebut tidak selamanya bersifat negatif, namun hal itu telah membawa pendidikan Islam cenderung kepada sifat ketertutupan dan ortodoksi.
Madrasah umumnya didirikan oleh masyarakat, di mana para pengelola dan komunitas pendukung itulah yang menentukan visi dan misinya apakah lembaga pendidikan tersebut mempunyai keinginan untuk maju. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita dan nilai-nilai Islam.
BAB III
PENUTUP
Dalam masa yangt cukup panjang, pendidikan Islam di Indonesia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi lama atau mengadopsi perkembangan baru. Dalam konteks inilah kemudian dituntut adanya suatu ketegasan visi dan misi pendidikan Islam sehingga tidak tergoda oleh tarik-menarik kecendrungan secara ekstrem. Pendidikan Islam bukanlah sekadar untuk menjadikan pendidikan agama Islam sebagai ‘cagar budaya’ dengan mempertahankan paham-paham keagamaan tertentu, tetapi sebagai agen of change, tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Dengan demikian pendidikan Islam akan resfonsif terhadap tuntutan masa depan, yaitu bukan hanya mendidik siswanya menjadi manusia yang saleh tetapi juga produktif.
Ada tiga alasan yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan untuk menyekolahkan anak-anaknya, yaitu nilai, status sosial,dan cita-cita. Masyarakat yang terpelajar akan semakin beragam pertimbangannya dalam memilih pendidikan anak-anaknya. Eksistensi madrasah selalu ditentukan oleh bagaimana masyarakat memberi dukungan, baik dalam bentuk moral maupun materil termasuk dengan menyekolahkan anaknya ke madrasah. Madrasah sulit berkembang justru erat kaitannya dengan persepsi masyarakat tentang madrasah.
Beberapa agenda besar harus mendapat respon dari dunia madrasah unggul dambaan masyarakat dan umat Islam. Sedikitnya ada empat syarat utama yang harus dipenuhi, yaitu ketersediaan tenaga pendidikan yang professional, kelengkapan sarana dan prasarana, perlu ditangani dengan sistem manajemen profesional yang modern, dan adanya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan dunia modern. Selain itu madrasah juga perlu memberikan perhatian untuk senantiasa meningkatkan kualitas, mengembangkan inovasi dan kreativitas, membangun jaringan kerjasama dan memahami kerakteristik pelaksanaan otonomi daerah.
Surau bagi masyarakat Minangkabau memiliki multifungsi. tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, rapat, tempat tidur tetapi juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam. Sedangkan meunasah merupakan lembaga pendidikan tingkat rendah yang ada di Aceh. Dan fungsinya hampir sama dengan surau yang ada di Minangkabau. dan pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang di pulau Jawa dan sampai sekarang tetap survive. Murid-murid yang tinggal di pesantren itu bermacam-macam dan duduk bagaikan sebuah keluarga yang di bawah pimpinan gurunya. Sistem pendidikan pesantren ini masih sama dengan sistem pendidikan di madrasah, meunasah, dan surau.
Hal penting yang perlu dicatat dari gambaran di atas, ialah bahwa institusi pendidikan Islam mengalami perkembangan, sesuai dengan kebutuhan dan perubahan masyarakat muslim di kala itu. Perkembangan dan kebutuhan masyarakat ditandai oleh, perkembangan ilmu karena pada saat itu kaum muslimin sangat membutuhkan pemahaman Al-quran sebagai apa adanya, begitu juga membutuhkan ketrampilan membaca dan menulis.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Sejarah Pendidikan Islam Era Rasulullah Sampai Indoneisa, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2009
Abdul Muzib dan Jusuf Muzakir, Ilmu Pendidikan Islam, Kencana Pranada Media, jakarta, 2010.
Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001.
Suwito, Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2008
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2000

Selasa, 12 Juli 2011

LAPORAN PELAKSANAAN BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT ( BBGRM )

LAPORAN PELAKSANAAN
BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT
( BBGRM )








DESA     : TLOGOSARI
KECAMATAN     : AYAH
KABUPATEN     : KEBUMEN

TAHUN 2011
LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN
BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT (BBGRM)
DESA TLOGOSARI KECAMATAN AYAH KEBYPATEN KEBUMEN
TAHUN 2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam menuju Desa swasembada, maka dengan ini masyarakat Desa Tlogosari sebagai salah satu bagian dari masyarakat Desa di Tlogosari Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen berperan serta secara aktif dalam menyukseskan program Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ). Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ini merupakan salah satu program unggulan dari pemerintah yang pelaksananya dimulai pada tahun 2011.

Dasar Pelaksanaan
Dasar dari pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) ini adalah :
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 tahun 2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat.
Surat Gubernur Nomor : 411. 2107743 tanggal 13 April 2009 perihal identifikasi pencanangan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ).
Surat dari Bupati Kebumen Nomor : 411. 3 I 00514 tanggal 27 Apnl2011 tentang penyelenggaraan Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ) Tahun 2011.

Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan pelaksanaan Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari adalah meningkatkan kesadaran peran serta masyarakat dalam pembangunan terutama dalam bidang kemasyarakatan, bidang ekonomi, bidang sosial budaya dan agama serta bidang lingkungan. Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat di Desa Tlogosari mulai dari warga masyarakat biasa sampai dengan seluruh lembaga yang ada di Tlogosari yaitu RT,RW,Tim Penggerak PKK,LKMD dll.
Sasaran dari Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ) ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat Desa Tlogosari akan pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan terutama dalam bidang kemasyarakatan , bidang ekonomi, bidang sosial dan agama serta bidang lingkungan hidup.

PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENCANANGAN
Persiapan
Persiapan pelaksanaan Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari dimulai pada tanggal 25 Juni 2011 dengan diadakannya musyawarah Pembentukan panitia pelaksanaan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari yang dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat Desa Tlogosari mulai dari RT, RW, LKMD, Tim Penggerak PKK, BPD serta Tokoh Masyarakat.



Pelaksanaan pencanangan
Pelaksanaan pencanangan Bulan bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari dilaksanakan pada tanggal 0l Juli 2011 setelah terbentuknya kepanitiaan tingkat desa. Penyusunan program-program yang akan dilaksanakan dan waktu pelaksanaan dilakukan pada saat itu juga kemudian dilanjutkan sosialisasi kepada warga masyarakat melalui ketua-ketua lingkungan setempat dan tokoh masyarakat.

PELAKSANAAN KEGIATAN
Pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat dilaksanakan satu bulan penuh yaitu pada bulan Agustus 2011 Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh wilayah Desa Tlogosari. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
Bidang Kemasyarakatan
Pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) di bidang Kemasyarakatan antara lain adalah penyuluhan sadar hukum, antisipasi teror, tertib administrasi, kependudukan, dan sadar pajak.

Bidang ekonomi
Pelaksanaan kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat ( BBGRM ) pada bidang ekonomi antara lain perbaikan jalan terutama yang menjadi akses, mengingat selain sebagai petani dan buruh tani masyarakat Desa Tlogosari juga berprofesi sebagai pedagang.

Bidang Sosial dan Budaya
Pelaksanaan kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat ( BBGRM ) pada bidang sosial budaya agama antara lain memberikan santunan terhadap anak-anak yatim yang ada di seluruh Desa Tlogosari terutama yang dalam keadaan tidak mampu. Selain itu juga diadakan kegiatan pengajian-pengajian di masjid dan mushola-mushola diseluruh wilayah Desa Tlogosari.

Bidang Lingkungan
Pelaksanaan kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat ( BBGRM ) pada bidang Lingkungan antara lain adalah kerja bakti membersihkan lingkungan dan saluran air, pembersihan jalan.

PEMBIAYAAN
Pembiayaan dalam semua kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat (BBGRM ). Adalah Swadaya Masyarakat Desa Tlogosari.

PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Permasalahan
Permasalahan yang timbul pada saat pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) antara lain adalah sulitnya mengkoordinir warga masyarakat Desa Tlogosari untuk melakukan kegiatan terutama kegiatan-kegiatan yang di adakan pada pagi hari. Hal ini terjadi karena kesibukan masyarakat sibuk terhadap pekerjaan masing-masing. Selain itu pembiayaan kegiatan ini menjadi kendala tersendiri mengingat warga masyarakat harus melakukan swadaya sedangkan kemampuan warga secara langsung maupun pengadaan dari kas Desa sangat minim.


Pemecahan
Pemecahan dari permasalahan yang pertama adalah dengan jalan tim pelaksana mencari waktu yang tepat dalam  melakukan kegiatan sebagai contoh pada saat warga melakukan kumpulan RT/RT. Sedangkan untuk permasalahan dana yang bersifat swadaya, maka tim pelaksana melakukan kebijakan bagi warga masyarakat yang karena kesibukanya tidak bisa mengikuti kegiatan, mereka diwajibkan memberikan sumbangan dana yang lebih besar. Adapun untuk warga yang tidak bisa memberikan sumbangan dalam bentuk dana, maka diwajibkan untuk memberikan tenaga yang lebih.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan dalam rangka Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga masyarakat Desa Tlogosari baik secara langsung maupun tidak langsung , dari segi sosiologis (kemasyarakatan), materiil (ekonomi) dan yuridis (hukum) serta agama dan budaya.
Dari segi sosiologis (kemasyarakatan),kehidupan kekeluargaan dan sikap gotong-royong masyarakat Desa Tlogosari akan selalu terpelihara walaupun terkendala dengan berbagai kesibukan kesibukan warga. Sedangkan dari segi materiil (ekonomi), kehidupan ekonomi warga masyarakat semakin meningkat karena hasil panen bertambah dan akses jalan ke areal pertanian semakin mudah. Adapun secara yuridis (hukum), masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya menaati peraturan - peraturan hukum yang berlaku baik secara normatif maupun secara adat. Dari segi agama, dengan dilakukannya pengajian rutin maka kesadaran masyarakat akan pentingnya beribadah semakin meningkat.
Saran
Dari Pelaksanaan kegiatan bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari kami memberikan saran agar program ini dilakukan secara berkelanjutan karena manfaatnya sangat besar,dan untuk pengadaan dana kami mengharap agar dari, pemerintah Kabupaten,Propinsi maupun Pusat agar ada pendanaan dari APBD.

 PENUTUP
Demikian laporan yang dapat kami sampaikan dari pelaksanaan kegiatan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari..Kami selalu menerima dan saran dari semua pihak demi perbaikan di masa yang akan datang.




Tlogosari, 20 Juni 2011

Kepala Desa Tlogosari,



H.M. ISWANTO


    PEMERINTAH  KABUPATEN  KEBUMEN
KECAMATAN  AYAH
KEPALA DESA TLOGOSARI
Jl. Kendali Sodo No. 01 Tlogosari, Ayah Kebumen 54473.
 Telp. 0828255069   

KEPUTUSAN KEPALA DESA TLOGOSARI, KECAMATAN AYAH,
KABUPATEN KEBUMEN
NOMOR  : 144 / 05 / KEP / 2011
TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PELAKSANA BULAN BHAKTI GOTONG ROYONG
MASYARAKAT DESA TLOGOSARI, KECAMATAN AYAH TAHUN 2011

KEPALA DESA TLOGOSARI,
Menimbang    :    a.    bahwa dalam rangka mengoptimalkan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat Tahun 2011 Tingkat Kecamatan  Ayah, maka perlu adanya Tim Pelaksana Kegiatan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat Desa Tlogosari, Kecamatan Ayah Tahun 2011;
        b.    bahwa untuk keputusan dimaksud dalam huruf a, maka perlu ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa Tlogosari.

Mengingat    :    1.    Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah - daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
        2.    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran  Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Indonesia Nomor  4437 ) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang  Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
        3.    Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan     antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara     Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara     Republik Indonesia Nomor 4438 );
        4.    Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan;
        5.    Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
        6.    Peraturan Pemerintah Nomor 72  Tahun 2005 tentang Desa;
        7.    Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
        8.    Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 9 tahun 2007 Tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa/Kelurahan;
        9.        Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata kerja Kecamatan Dan Kelurahan
        10.    Peraturan Bupati Kebumen Nomor 31Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa ;
        11.    Peraturan Bupati Kebumen Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan;
        12.    Surat Bupati Kebumen Nomor 411.3/0514 Tanggal 27 April 2011 Perihal Penyelenggaraan Bulan Bakti Gotong Masyarakat (BBGRM) Tahun 2011;
   
MEMUTUSKAN :
Menetapkan     :   
KESATU    :    Menetapkan Tim Pelaksana Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat Desa  Tlogosari (BBGRM) Tahun Anggaran 2011 Tingkat Desa Tlogosari sebagaimana dalam lampiran Keputusan ini;
KEDUA    :    Tim Pelaksana Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat Desa Tlogosari  Tahun  2011 Mempunyai tugas;
a.     Melakukan persiapan, pelaksanaan dan pembangunan tindak lanjut kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat bersama masyarakat;
b.    Melaporkan hasil kegiatan kepada Kepala Desa;
       

KETIGA    :    Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.








    Ditetapkan di     :  Tlogosari
Pada tanggal      :  20 Juni 2011

KEPALA DESA TLOGOSARI,




H.M. ISWANTO   

LAMPIRAN :         KEPUTUSAN KEPALA DESA TLOGOSARI
                    KEC. AYAH, KAB. KEBUMEN
    NOMOR    :    144 / 05 / KEP / 2011
    TANGGAL    :    20 Juni 2011
                    ------------------------------------------------------------------


SUSUNAN TIM PELAKSANA KEGIATAN
BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT DESA TLOGOSARI
TAHUN 2011



NO    N A M A    JABATAN    KETERANGAN      
1    2    3    4      
1.    H.M. ISWANTO    KEPALA DESA    Tanggung Jawab       
2.    SUPARNO    KETUA I LKMD    Ketua Pelaksana      
3.    PURNOMO    SAKRET LKMD    Sekertaris Pelaksana      
4.    SLAMET    BENDAHARA LKMD    Pelaksana      
5.    SALAMUN    KPM / TOMA    Anggota      
6.    NARWOTO    TOKOH MAS / KPM    Anggota      
7.    HADI SOLIHIN    TOKOH MAS / KPM    Anggota      
8.    SAMIRAT    TOKOH MAS / KPM    Anggota      
9    SARIYEM    TOKOH MAS / PKK    Anggota   

 
    KEPALA DESA TLOGOSARI,




H.M. ISWANTO   

ISU ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

ISU ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang haq hingga akhir masa. Islam agama yang komprehensif karena islam adalah tutunan dalam menjalani kehidupan ini, segala laku kita sudah tercantum tutunannya dalam al-Qurán dan al-Hadits jadi jika kita hidup dengan memegang tutunan itu maka layaknya seorang pengelana maka dia tidak akan tersesat karena dia mempunyai peta guna membuatnya sampai ketempat tujuan walaupun dalam menjalaninya ditempuh dengan susah payah.

Dalam Islam sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rosulullah saw:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ   خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ   اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ   عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1],, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq, 1-5)


Adalah wahyu yang mengetengahkan ilmu yang harus dimiliki guna menjalankan agama Allah swt ini, yaitu dengan ilmu Allah, maka tidak heran mengapa Rosulullah menjawab: “saya tidak bisa membaca” bukan berarti beliau tidak bisa baca tulis atau bukan beliau bodoh yang tidak bisa menggunakan pikirannya. Justru jawaban tersebut menggambarkan pandangan yang jauh dan murni, seperti halnya para malaikat tatkala diperintahkan untuk menjelaskan al-Asma mereka menjawab:     سبحنك لا علم لنا الاماعلمتنا

Wahyu adalah diatas segalanya akalpun tak sanggup menjangkaunya, hanya qolbu yang bersih akan tersentuh oleh wahyu. Karena wahyu adalah bahasa Allah yang berbicara tentang hakekat kebenaran (Haq).

Sesungguhnya ilmu itu dari Allah yang diajarkan didalam kitabnya dan tidak pernah ada suatu ilmupun yang tidak diterangkan dalam al-kitab atau terlepas dari al-Qurán.

Jadi dalam kehidupan ini kita membutuhkan ilmu pengetahuan, baik dalam memahami Islam juga dalam memahami alam beserta isinya yang telah Allah swt ciptakan, kita membutuhkan uraian ilmu yang terkandung dalam al-Quránul karim sebagai mana perkataan DR. Zakir Naik[2] dalam Dialognya mengenai Ilmu pengetahuan dari sisi al-Qurán dan Injil beliau, mengatakan:

“al-Qurán bukanlah ilmu pengetahuan ia adalah buku tentang tanda, ia buku tentang ayat-ayat dan disana ada 6000 ayat dalam al-qurán yang agung yang di dalamnya ada lebih dari 1000 uraian tentang ilmu pengetahuan”. Yang didalamnya terdapat ribuan tanda bagi orang yang mau membuka mata pikiran dan hatinya, karena orang-orang yang mendengar tetapi tuli, melihat tetapi buta dan berbicara tetapi bisu. Sebagaimana Allah swt berfirman:


صُمُّ بُكْمٌ عُمْىُُ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta[3], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Baqarah, 18)


Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran antara kitab suci dan ilmu pengetahuan yaitu pendekatan kesesuaian dan pendekatan konflik. Yaitu pendekatan kesesuain antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, atau pendekatan konflik dimana mencari ketidak samaan antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, namun dengan pendekatan apapun al-Qurán sepanjang anda berpikir logis dan setelah penjelasan logis diberikan pada anda tak seorang dapat membuktikan satu ayat pun dalam kitab suci al-Qurán untuk dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern[4].

Dari penjabaran latar belakang diatas penulis ingin membuat beberapa hal yang menjadi perhatian atau yang akan dibahas dalam makalah ini menyangkut islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
Dua pengembang Islamisasi ilmu pengetahuan yang terkenal.
Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan.
Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer.

B. Pembahasan
Pada hakekatnya ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of knowledge) ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Islam di zaman moderen ini. Ide tersebut telah diproklamirkan sejak tahun 1981, yang sebelumnya sempat digulirkan di Mekkah sekitar tahun 1970-an.

Dalam islamisasi dikenal dua nama yang disebut-sebut sebagai penyebar faham ini keseluruh penjuru negeri, yaitu Naquib al-Attas dan Ismail al-Faruqi, dimana kedua sama-sama mengumandangkan Isu Islamisasi Ilmu Pengetahuan tetapi dengan dua jalan yang berlainan.

Al-Attas vs Al-Faruqi[5]
Konstruk intelektual yang dinisbatkan pada peradaban tertentu, biasanya memiliki spektrum yang cukup luas.  Ia tidak bisa dibaca sebagai sesuatu yang tunggal dan serba seragam.  Demikian halnya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perkembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya.  Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut.

Namun ada beberapa konsep-konsep dasar yang menjadi titik persamaan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan berbagai sarjana Muslim. Misalnya jika kita melihat pada dua nama yang cukup berpengaruh di dunia Islam dan dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan: Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

Bagi Al-Attas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.  Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya.

Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman.  Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah.  Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Atas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler. Singkatnya menurut Al-Attas sukses tidaknya pengembangan islamisasi ilmu tergantung pada posisi manusia itu sendiri (subjek ilmu dan teknologi).

Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam.

Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya.  Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.

Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini maka setiap disiplin ilmu mesti dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah.  Ia harus didefinisikan dengan cara baru, data-datanya diatur, kesimpulan-kesimpulan dan tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam.

Di samping beberapa kesamaan pola dasar islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dapat dilihat dari paparan di atas, agaknya ada segaris perbedaan di antara al-Attas dan al-Faruqi.  Al-Faruqi tampaknya lebih bisa menerima konstruk ilmu pengetahuan modern yang penting baginya adalah penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan cara yang berbeda.  Sementara Al-Attas disamping pengaruh sufisme yang cukup kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka islamisasi ilmu pengetahuannya lebih menekankan pada dikedepankannya keaslian (originality) yang digali dari tradisi lokal.

Dalam pandangan Al-Attas, peradaban Islam klasik telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri. Tanpa bantuan ilmu pengetahuan barat modern, diyakini dengan merujuk pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan peradaban.

Agaknya, perbedaan semacam ini, disamping faktor-faktor personal, yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang berbeda. Jika al-Attas kemudian berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Al-Attas memformulasi dua tujuan pertama dari ISTAC:

1. Untuk mengonseptualisasi, menjelaskan dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan dan epistimologi yang dihadapi muslim pada zaman sekarang ini.

2. Untuk memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran-aliran pemikiran, agama, dan ideologi.

Sementara itu al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. IIIT mendefinisikan dirinya sebagai sebuah “yayasan intelektual dan kultural” yang tujuannya mencakup:

Menyediakan wawasan Islam yang komprehensif melalui penjelasan prinsip-prinsip Islam dan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dari pemikiran kontemporer.
Meraih kembali identitas intelektual, kultural dan peradaban umat, lewat Islamisasi humanitas dan ilmu-ilmu sosial.
Memperbaiki metodologi pemikiran Islam agar mampu memulihkan sumbangannya kepada kemajuan peradaban manusia dan memberikan makna dan arahan, sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan Islam.
Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan[6]

Terdapat beberapa model skematis dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Al Faruqi misalnya menggagaskan sebuah rencana kerja dengan dua belas langkah:
1. Penguasaan dan kemahiran disiplin ilmu modern: penguraian kategori
2. Tinjauan disiplin ilmu
3. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah antologi
4. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah analisis
5. Penentuan penyesuaian Islam yang khusus terhadap disiplin ilmu
6. Penilaian kritikal terhadap disiplin ilmu modern: hakikat kedudukan pada masa kini.
7. Penilaian kritikal terhadap warisan Islam: tahap perkembangan pada masa kini.
8. Kajian masalah utama umat Islam
9. Kajian tentang masalah yang dihadapi oleh umat manusia
10. Analisis kreatif dan sintesis
11. Membentuk semua disiplin ilmu modern kedalam rangka kerja Islam: buku teks
universitas.
12. Penyebaran ilmu pengetahuan islam

Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern.
Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam.
Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern.
Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah.

Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.

Sementara Al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psikologi dari kebudayaan dan peradaban Barat.

Ilmu pengetahuan Barat-modern dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. (1) Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; dan (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Oleh karena itu, Islam harus menjadi acuan yang menentukan dalam prinsip utama setiap displin ilmu untuk setiap usaha dan perbuatan manusia. Ada empat poin yang harus diperhatikan, seperti:

1)      Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam,
2)      Pencapain sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam,
3)      Bagaimaan kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari,
4)      Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermanfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.

Faktor lain selaras dengan pandangan di atas adalah masih menduanya sistem pendidikan. Pertama, sistem pendidikan “modern” dan kedua, sistem pendidikan “Islam”. Dualisme pendidikan ini melambangkan kejatuhan umat Islam. Hal ini perlu diatasi, jika tidak sistem dualisme tersebut akan tetap menjadi penghalang setiap usaha rekontruksi peradaban Islam.

Renungan ini sangat penting, karena apabila kita memperhatikan secara cermat, pengalaman masa lampau serta rencana masa depan menuju satu arah perubahan yang dinginkan, maka harus dimulai dari rumusan sistem pendidikan yang paripurna. Apa yang telah Al-Attas dan Al-Faruqi paparkan, itu merupakan langkah “dasar” untuk bertahannya peradaban Islam.

1.Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer[7]

Proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki tiga fase. Prof. Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains yang berasal dari Universitas Harvard mengatakan, gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) dengan mendirikan perpustakaan yang dinamakan dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat kajian, menunjukkan fase pertama dari tiga tahap islamisasi sains. Adapun tahap kedua, yaitu fase peralihan atau akuisisi, di mana sains Yunani hadir di hadapan peradaban Islam sebagai pendatang atau tamu yang sengaja diundang (an invited guest), bukan sebagai penjajah atau perusak (an invading force). Namun pada tahap ini Islam masih menjaga jarak serta berhati-hati selalu waspada. Kemudian tahap terakhir adalah fase penerimaan atau adopsi, di sini Islam telah mengambil dan menikmati apa yang dibawa serta oleh peradaban tersebut.

Pada saat itu pula kemudian lahirlah ilmuwan-ilmuwan hebat seperti: Jabir ibn Hayyan (w.815 M), al-Kindi (w.873), dan lain-lain. Proses ini tidak berhenti di sini saja namun terus berlanjut ke tahap asimilasi dan naturalisasi. Pada fase ini Islam telah mampu membuat dan mengkonsep ulang ilmu pengetahuan yang syarat akan nilai-nilai keislaman sehingga islam sanggup menjadi pionir dunia di bidang sains dan teknologi. Fase kematangan ini terus berlangsung selama kurang lebih 500 tahun lamanya, dan telah ditandai dengan hasil produktivitas yang tinggi dan tingkat orisinalitas keilmuwan yang benar-benar luar biasa.

Dari paparan di atas, kini jelaslah sudah bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan waktu. Ada satu hal yang mungkin kadang terlupakan, yakni kesadaran akan setiap hasil pemikiran manusia yang selalu bersifat historis dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk itu gagasan islamisasi harus tetap dikembangkan, dilaksanakan, dan kemudian dievaluasi melalui konsep-konsep, ukuran serta standar sebagai produk “framework islami” yang selalu melibatkan “worldview Islam”.


C. Kesimpulan


Berdasarkan dari pembahasan diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa islamisasi ilmu pengetahuan sangatlah penting melihat dari keadaan umat islam yang hanya menjadi penonton bagi kehancuran dunia ini. Karena para ilmuan bukan islam ini hanya akan membawa kehancuran bagi ciptaan-ciptaan Allah swt. Hal-hal yang perlu dan harus dilakukan adalah:
Generalisai pemahaman konsep aqidah islam pada seluruh institusi pendidikan khususnya institusi pendidikan muslim yang ada di Indonesia.
Human Resouces Development atau pengembangan sumber daya manusia khususnya bagi pendidik atau tutor.
Sosialisasi konsep aqidah islam pada seluruh aspek kehidupan baik latar belakang pendidikan maupun non pendidikan.
Praktek kerja sebagai terapan dari pemahaman konsep aqidah islam bagi anak didik secara global baik nasional maupun internasional.
Evaluasi diri atau feedback sebagai aktualisasi diri dari pemahaman konsep aqidah islam tersebut diatas (Islamisasi secara keseluruhan).


D. Daftar Isi


Http://Michailhuda.Multiplay.Com/Journal/Item/157/Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan_Posisi_Lembaga_Pendidikan_Tinggi_Islam_Di_Indonesia.


Http://Www.Inpasonline.Com/Index.Php?Option=Com_Content&View=Article&Id=401.Kebutuhan_Mendesak_Terhadap_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan


Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm


Http://Mpiuika.Wordpress.Com/2010/01/Tiga-Fase-Islamisasi-Ilmu-Pengetahuan-Kontemporer/


Http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.format=pdf


Http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/02/pemikiran-ismail-raji-al-faruqi.html


Http://belajarisalam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=338:pemikiran-pendidikan-menurut-s-m-naqiub-al-attas


Http://annajah.info/index.php


www.hidayatullah.com


Nata Abudin. 2005. “Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Jakarta: UIN Jakarta Press


Departeman Agama RI. “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Jakarta: PT. Syaamil Cipta Media.


Wan Mohd Nor Wan Daud. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Bandung: MIZAN Anggota IKAPI.


MAJALAH ISLAMIA. “Epistemologi Islam dan Problem Pemikiran Muslim Kontemporer”. Thn II No. 5 April-Juni 2005.


MAJALAH ISLAMIA. “Membangun Peradaban Islam dari Dewestranisasi Kepada Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Thn II No. 6, Juli-September 2005.









[1] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.


[2] President Islamic Research Foundation


[3] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.


[4] Debat al-Qurán dan Injil dari sudut pandang ilmu pengetehuan antara Dr. William Cambell (Pennysylvania, USA) dan Dr. Zakir Naik (Mumbai, India). 2000


[5]Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm


[6] Ibid, hal

[7]Http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.format=pdf

MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP

MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Islam mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia bidang lingkungan hidup. Sebagai mahluk penciptaan Allah, manusia telah banyak dibekali ilmu pengetahuan untuk di kembangkan dan dimanfaatkan untuk diri dan lingkungannya.
Pada dasarnya pemanfaatan atau pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup sangat berpengaruh penting pada kelangsungan ekosistem di dalamnya.  Dengan demikian  pada saat ini upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup terus dilakukan, dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, sehingga dapat kita rumuskan masalahnya sebagai berikut :
1)    Apa pengertian lingkungan hidup ?
2)    Apa dasar dan fungsi lingkungan hidup ?
3)    Apa peran manusia terhadap lingkungan hidupnya?

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Lingkungan Hidup
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pengertian Lingkungan Hidup menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Lingkungan hidup yang tertera pada undang-undang di atas merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen itu. Pada ruang ini berlangsung ekosistem, yaitu suatu susunan organisme hidup dimana diantara lingkungan abiotik dan organisme tersebut terjalin interaksi yang harmonis dan stabil, saling memberi dan menerima kehidupan.

Dasar dan Fungsi Lingkungan Hidup
Mahluk hidup pada dasarnya selalu dinyatakan dalam suatu unit populasi, sedangkan populasi sendiri adalah kumpulan individu yang mempunyai potensi untuk berkembang biak. Dalam keadaan populasi yang selalu meningkat, maka persaingan antar individu pun meningkat. Persaingan tersebut berakibat efek ekologi dan efek evolusi.
Ekologi lebih ditekankan pada lingkungan alam, khususnya hubungan antara organisme dengan sekitarnya.
Menurut ahli lingkungan hidup, Soerjini (1982), ada beberapa konsep dasar ilmu ekologi, antara lain:
1.    Ekosistem;
2.    Sistem produksi, konsumsi dan dekomposisi;
3.    Materi dan energi;
4.    Keseimbangan;
5.    Faktor-faktor keterbatasan dan daya dukung;
6.    Daya dukung dan strategi adaptasi.
Sedangkan fungsi lingkungan hidup bagi manusia, antara lain:
Sebagai tata ruang bagi keberadaaanya. Ini mencakup segi estetika dan fisika yang berbentuk dalam diri manusia sebagai dimensi jasmani, estetika dan fisika yang berbentuk dalam diri manusia sebagai dimensi jasmani, rokhani dan kebudayaan.
Sebagai penyedia (sustenance) berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Dalam hal ini manusia memanfaatkan segi produktifitas dari lingkungan secara eksploitatif (meraup) yang menghasilkan sumber-sumber daya alam yang dapat memanfaatkan manusia guna kepentingan dirinya.

Dalam firman Allah Qur’an Surat Huud ayat 61, diterangkan:
... uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚö‘F{$# óOä.tyJ÷ètGó™$#ur $pkŽÏù ...... ÇÏÊÈ  
Artinya:   
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya ” ( Q.S. Huud: 61)

Peran Manusia Terhadap Lingkungan Hidup
Dalam Islam, manusia mempunyai peranan penting dalam menjaga kelestarian alam (lingkungan hidup). Islam merupakan agama yang memandang lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seseorang terhadap Tuhannya, manifestasi dari keimanan seseorang dapat dilihat dari perilaku manusia, sebagai khalifah terhadap lingkungannya. Islam mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian alam (lingkungan hidup).
Kesadaran manusia tentang pentingnya lingkungan hidup telah dikenal manusia dari dahulu. Karena perilaku seseorang dari masa lalu yang berkaitan dengan lingkungan hidup, maka dibuktikan dengan adanya usaha manusia untuk memahami lingkungan alamiahnya.
Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna, sehingga manusia diberikan tugas untuk menjaga kelestarian lingkungan hidupnya. Seperti pada dalil Al-Qur’an berikut ini:
ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ  
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. ( Q.S. At-Tiin: 4)

Dalam Kebijakan Nasional dan Daerah dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup yang tertuang pada Progam Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya alam dan Pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. Ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Sasaran program ini adalah tersediaanya sarana bagi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sejak proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan.
Usaha manusia untuk mengelola lingkungan hidupnya sudah dimulai dari jaman tradisional sampai dengan jaman modern. Bisa disebutkan saja untuk sekarang ini dalam meningkatkan kelestarian alam, pemerintah sudah membuat aturan-aturan yang bertujuan agar alam ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh orang banyak, khususnya anak cucu kita.
Akan tetapi karena kurangnya kesadaran dari berbagai pihak, alam ini sebagian besar sudah di eksploitasi oleh individu yang hanya mementingan diri sendiri, tanpa memikirkan nasib dan keadaan lingkungan hidupnya. Terkait dengan tersebut, maka sebagai mahluk ciptaan Allah yang beriman, kita hendaknya selalu taat dan patuh pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar hati dan pikiran kita selalu selalu diarahkan pada hal-hal kebaikan.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Mahluk hidup pada dasarnya selalu dinyatakan dalam suatu unit populasi, sedangkan populasi sendiri adalah kumpulan individu yang mempunyai potensi untuk berkembang biak. Dalam keadaan populasi yang selalu meningkat, maka persaingan antar individu pun meningkat. Persaingan tersebut berakibat efek ekologi dan efek evolusi.
Fungsi lingkungan hidup bagi manusia, antara lain: sebagai tata ruang bagi keberadaaanya dan sebagai penyedia (sustenance) berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Islam mengajarkan untuk umat-Nya agar selalu menjaga lingkungan hidup, karena Islam mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian alam (lingkungan hidup).

B.    Saran
Kita sebagai makhluk ciptaan Allah, harus lebih memperhatikan keadaan lingkungan hidup hidup kita. Khususnya peran ini bertujuan untuk melestarikan dan mencegah kerusakan alam ini agar kelangsungannya dapat kita manfaatkan bersama untuk kehidupan kita dan anak cucu kita di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Adnan dkk. 1997.  Islam dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy.
Kristanto, Philip, Ir., 2002. Ekologi Industri, Yogyakarta: Andi Offset.
Alamendah. 2009. Manusia, Khalifah Penjaga Kelestarian Alam (Artikel).
Sudarmadji. 2008. Pembangunan Berkelanjutan, Lingkungan Hidup Dan Otonomi Daerah (Artikel).
___________, 2006. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: C.V Diponegoro

AKIBAT PENGRUSAKAN TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

AKIBAT PENGRUSAKAN TERHADAP
LINGKUNGAN HIDUP

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kerusakan lingkungan hidup pada saat ini mencapai puncak yang sangat tinggi. Kerusakan-kerusakan ini mengakibatkan beberapa faktor yang perlu kita atasi bersama. Kerusakan lingkungan hidup dapat disebabkan oleh campur tangan manusia, yang dapat deskripsikan dengan bertambahnya manusia yang berperan sebagai konsumen, para produsen memproduksi produk mereka agar memenuhi kebutuhan konsumen mereka. Sedangkan semakin banyak produk yang dikeluarkan oleh industri mengakibatkan kerusakan alam khususnya pada lingkungan hidup yang berada di bumi ini.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, sehingga dapat kita rumuskan masalahnya sebagai berikut :
1)    Apa pengertian lingkungan hidup ?
2)    Apa unsur-unsur lingkungan hidup ?
3)    Bagaimana akibat kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh manusia?

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Lingkungan Hidup
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pengertian Lingkungan Hidup menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Lingkungan hidup sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang tersebut merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen itu disebut ruang.
Pada ruang ini berlangsung ekosistem, yaitu suatu susunan organisme hidup dimana diantara lingkungan abiotik dan organisme tersebut terjalin interaksi yang harmonis dan stabil, saling memberi dan menerima kehidupan.

Unsur-unsur Lingkungan Hidup
Adapun unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:
Unsur Hayati (Biotik)
Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
Unsur Fisik (Abiotik)
Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

Bahaya Perusakan Lingkungan Hidup
Tujuan bumi beserta isinya diciptakan oleh Allah adalah untuk kesejahteraan manusia, akan tetapi karena kesemena-menanya manusia sehingga menimbulkan bahaya pada kelestarian lingkungan hidup.
Dengan adanya kerusakan alam ini, akan berakibat pada kehidupan manusia. Adapun akibat tersebut dikarenakan campur tangan manusia itu sendiri. Manfaat dari lingkungan hidup adalah agar manusia dapat hidup dengan sejahtera. Untuk itu manusia perlu mengetahui hal-hal yang dapat merusak lingkungan hidup. 
Adapun yang dapat merusak lingkungan hidup  dan alam antara lain:
a.    Eksploitasi Air dan Pencemaran Lingkungan
Firman Allah:
... $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ... ÇÌÉÈ   

Artinya:
“.....dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..”
 (Q.S. Al-Anbiya: 30)

Dalam Al-Qur’an di atas menegaskan bahwa air adalah sumber dari kehidupan bagi semua mahluk di jagat raya ini. Akan tetapi karena ulah manusia, baik dalam kegiatn industri, pertanian, transportasi, energi dan pemukiman, membuang limbah ke sungai, tanah dan laut sehingga meningkatkan kadar pencemaran air.
b.    Merosotnya Kualitas Tanah, Hutan, Pertambahan Penduduk, dan Eksploitasi Alam.
Kerusakan lingkungan hidup akibat populasi manusia dan dan eksploitasi alam yang berlebihan akan mempengaruhi keadaan lingkungan. Semakin banyak manusia tinggal di suatu daerah maka kebutuhan hidup juga bertambah. Dengan bertambahnya manusia yang berperan sebagai konsumen, para produsen memproduksi produk mereka agar memenuhi kebutuhan konsumen mereka.
Sedangkan semakin banyak produk yang dikeluarkan oleh industri mengeluarkan limbah yang dibuang ke lingkungan. Limbah inilah yang mengakibatkan kerusakan alam khususnya pada lingkungan hidup.
c.    Menciutnya Keragaman Hayati.
Keragaman hayati dapat dikatakan tulang punggung kehidupan, baik dari segi ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Misalnya dari segi tumbuhan dan mikroba, suatu kelompok masyarakat mampu meramu obat (tradisional) yang sekarang mulai diminati lagi dan sekarang juga sudah mulai di fungsikan untuk pembuatan obat  yang bersifat modern.
Akan tetapi karena ulah tangan manusia yang semena-mena, sehingga tingkat keanekaragaman hayati menurun karena pohon-pohon ditebangi secara liar dan hewan-hewannya dibunuh secara semena-mena. Di laut berbagai jenis penyu, ikan hiu dan paus punah karena pengeboman. Selain itu keanekaragaman hayati juga dapat memepengaruhi menurunnya habitat alamiah karena habitat buatan.
d.    Perubahan Iklim Akibat Pemanasan Global.
Pemanasan global muncul karena kegiatan manusia semakin banyak menghasilkan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida. Menurut hasil penelitian para ahli, semakin banyak gas karbon dioksida dilepaskan ke udara dari hasil kegiatan manusia, akan semakin mempercepat kenaikan suhu di permukaan bumi. Kenaikan suhu di permukaan bumi mempengaruhi iklim di bumi, dan akan berdampak negatif pada kehidupan.
Peningkatan kadar suatu gas yang tidak layak dan disebur gas rumah kaca yang diakibatkan dari berbagai limbah gas yang berasal dari pabrik, kendaraan bermotor, percobaan nuklir, penebangan dan pembakaran hutan dan lain-lain. Peningkatan gas karbon dioksida yang terus berlangsung, dan tanpa ada tindakan manusia untuk menguranginya, diramalkan 100 tahun kemudian suhu bumi akan naik. Kenaikan suhu ini menyebabkan perubahan iklim yang cukup berarti, dan akan disertai dengan berbagai bencana alam seperti angin badai, naiknya permukaan laut, mencairnya es di puncak gunung dan es di kutub, punahnya flora dan fauna yang tidak tahan terhadap perubahan.
e.    Tekanan Perkembangan Penduduk.
Hal-hal yang menjadi tekanan perkembangan dalam penduduk mempunyai 2 aspek, yaitu:
1.    Aspek Kependudukan
Masalah-masalah kependudukan sebagian besar disebabkan karena tingkat pertumbuhan penduduk yang itnggi, struktur umum penduduk muda, penyebaran yang tidak proporsional dengan sebaran sumber daya alam serta daya dukung lingkungan, dan terjadinya urbanisasi.
2.    Aspek Kemiskinan
Kemiskinan merupakan sebuah kondisi serba kekurangan yang terjadi pada kelompok masyarakat karena ketidakberdayaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada pada masyarakat miskin tersebut.
Adapun islam mengajarkan dalam sebuah dalil sebagai berikut:

 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ .... ÇÊÊÈ  

Artinya:
“ Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...”.
 (Q.S. Ar-Ra’du :11)


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Lingkungan hidup merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen.
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga unsur, yaitu unsur hayati (biotik), unsur sosial budaya,dan unsur fisik (abiotik). Bahaya perusakan lingkungan hidup akan berakibat pada kehidupan manusia. Adapun akibat tersebut dikarenakan campur tangan manusia itu sendiri. Manfaat dari lingkungan hidup adalah agar manusia dapat hidup dengan sejahtera. Adapun yang dapat merusak lingkungan hidup  dan alam antara lain: eksploitasi air dan pencemaran lingkungan; merosotnya kualitas tanah, hutan, pertambahan penduduk, dan eksploitasi alam; menciutnya keragaman hayati; perubahan iklim akibat pemanasan global; dan tekanan perkembangan penduduk.

B.    Saran
Seharusnya kita sebagai manusia ciptaan Allah, harus lebih memperhatikan keadaan lingkungan hidup hidup kita. Kita harus berupaya melestarikan dan mencegah kerusakan alam ini agar kelangsungannyadapat kita manfaatkan bersama untuk kehidupan kita dan anak cucu kita di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Adnan dkk. 1997.  Islam dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy.
Kusuma, Afandi. 2009. Lingkungan Hidup, Kerusakan Lingkungan dan Pelestariannya. http://m.cybermq.com.
___________, 2006. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: C.V Diponegoro.
___________, 2008. Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Populasi Manusia. Sidoarjo.