Sabtu, 22 Januari 2011

PENDIDIKAN ISLAM BAGI ANAK DALAM KANDUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam pemahaman konvensional, pendidikan anak paling awal disebut dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ruang Lingkup PAUD dimulai dari sejak lahir sampai usia 8 tahun. Dalam ilmu pendidikan, PAUD terbagi menjadi empat tahapan yaitu infant atau bayi (usia 0-1 tahun), toddler (2-3 tahun), preschool/ kindergarten children atau anak usia TK (3-6 tahun), dan early primary school (SD Kelas Awal) (6-8 tahun).
Namun, dalam buku Prenatal Classroom (1992) karya F. Rene Van De Carr & Marc Lehrer dinyatakan bahwa pendidikan anak sebaiknya dimulai sejak dalam kandungan yang disebut dengan Prenatal Education (pendidikan sebelum lahir).
Pendapat Van De Carr & Mark Lehrer di atas diperkuat oleh William Sallenbach (1998) yang menyimpulkan bahwa periode pranatal atau pralahir merupakan masa kritis bagi perkembangan fisik, emosi dan mental bayi. Ini adalah suatu masa di mana kedekatan hubungan antara bayi dan orangtua mulai terbentuk dengan konsekuensi yang akan berdampak panjang terutama berkaitan dengan kemampuan dan kecerdasan bayi dalam kandungan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Proses Penciptaan Manusia
Dengan adanya proses diciptakannya manusia oleh Allah dari tanah (turaab) dan fase berikutnya adalah nuthfah, alaqah dan mudghah. Keseluruhan fase dari pembuahan (hamil) sampai melahirkan adalah sembilan bulan, ini adalah sebuah betuk keagungan dan keistimewaan dari Allah yang sangat besar.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim disebutkan bahwa sesungguhnya tiap orang diantara kamu dikumpulkan pembentukan/ kejadiannya dalam rahim selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian segumpal darah kental selama itu pula kemudian segumpal daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan (menetapkan) empat perkara (yaitu) rizki, ajal (umur), amal dan nasibnya.[1]
Dari proses penciptaan ini tentunya ada harapan dari orang tua agar anaknya kelak lahir dalam keadaan selamat dan mempunyai kecerdasan. Untuk itu perlu adannya pendidikan untuk janin (prenatal) agar nantinya anak terlahir dalam keadaan sempurna.

B.     Masa dalam Rahim
Pandangan islam mengajarkan bahwa alam semesta adalah suatu satu kesatuan yang tak terpisahkan. Setiap perjalanan waktu dan ruang yang akan dilalui manusia, senantiasa berkaitan dan saling mempengaruhi. Alam janin dipengaruhi oleh dua hal; yakni kesucian sumber (halal) dan mutu gizi makanan yang menyusun organ janin, yang diserap orang tuanya sebelumnya. Demikian pula situasi batin yang menyertai proses kehidupan janin, seperti proses awal perkawinan kedua orang tuanya, hingga menjelang lahirnya.[2] Itulah sebabnya islam memiliki cara yang standar dalam proses pernikahan hingga perilaku suami isteri dalam arti seluas-luasnya.
Islam memperkuat pandangan perlunya pendidikan pranatal. Tidak hanya itu, pendidikan pranatal menurut Islam harus dimulai dari sejak sebelum terciptanya janin. Yakni, bahwa :
1.      Penciptaan janin harus berasal dari pasangan yang sah. Bukan hubungan perzinahan;
2.      Dalam melakukan hubungan biologis, hendaknya dimulai dengan doa, setidaknya dengan baca bismillah;
3.      Setelah terjadinya proses nuthfah (sperma), berlanjut menjadi ‘alaqah dan kemudian mudghah (segumpal daging), maka dimulailah kehidupan seorang anak dalam rahim.[3]

C.    Pertumbuhan dan Perkembangan Biologis
Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dapat dipengaruhi oleh faktor sebelum lahir (prenatal), saat kelahiran (perinatal) dan setelah kelahiran (postnatal).[4]
Perkembangan organ tubuh yang sangat pesat saat prenatal (sebelum lahir) ialah perkembangan sel otak. Sel-sel saraf otak telah terbentuk sejak kehamilan memasuki usia tiga bulan pertama. Saat bayi berusia sekitar 2-3 bulan, ukuran kepalanya jauh lebih besar dibandingkan organ lainnya.[5]
Berdasarkan hasil penelitian diyakini perangsangan janin dalam kandungan berefek pada kecerdasan. Berbagai percobaan telah dilakukan untuk mengungkap hal tersebut. Misalkan bagi ibu hamil, bayi di rahim dirangsang dengan suara, sentuhan dan cahaya dengan harapan hal itu dapat meningkatkan kecerdasannya. Hasilnya bayi merespon rangsangan-rangsangan tersebut.[6]

D.    Pendidikan untuk Janin (Prenatal)
Waktu yang tepat untuk mendidik anak adalah ketika sejak ada di dalam kandungan, ini karena anak sudah mulai peka terhadap keadaan di sekitar dia. Karena  sistem syaraf yang digunakan untuk meluapkan rasa emosinya, juga sudah bekerja.  Bila ibu yang mengandungnya merasakan suatu kesedihan, calon bayi di dalam perut juga bisa merasakan hal yang sama. Demikian pula bila yang terjadi adalah sebaliknya. Jadi mendidik anak dalam kandungan itu bukan merupakan suatu yang mustahil, meski kita belum bisa berkomunikasi atau berhubungan dengan dia secara langsung.[7]
Adapun dasar-dasar pembinaan perilaku dan akhlak mulia untuk pertumbuhan kecermelangan anak dapat dilakukan dengan:
a.       Berdialog dengan janin
Berbicara dengan janin sangat dianjurkan karena roh janin telah memasuki tahap awal perkembangan dan persiapan untuk dunianya yang baru, yakni setelah lahir. Untuk itulah orang tua sebaiknya mulai rajin mengungkapkan kalimat-kalimat yang menguhubungkan rohaninya pada tujuan luhur, seperti perangai mulia dan cita-cita yang baik.
b.      Mendengarkan Firman Suci Ilahi
Kalimat ini akan bekerja secara metafisik untuk menimbulkan pengaruh bathiniyah pada janin. Ketentraman sang ibu dalam membacakan ayat suci Al-Qur’an akan sangat berpengaruh pada faktor-faktor kejiwaan anak karena tubuhnya masih bersatu dengan ibunya.[8]



E.     Metode dan Cara Mendidik Anak Dalam Kandungan
Dari tahap ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan sang ibu, sebagai guru pertama seorang anak, untuk mendidik anak yang masih dalam kandungan, antara lain: [9]
1.      Berfikir positif. Ibu yang berfikir positif membantu janin belajar lebih baik di dalam rahim. Basis lingkungan sosial janin adalah sang ibu. Dan pendidikan yang benar dimulai dengan ibu yang sehat dalam segala hal.
2.      Sering bersenandung mengagungkan asma Allah dan memperdengarkan musik bernuansa Islami agar anak terdidik mengenal Allah sejak dini. Memperdengarkan musik klasik juga dapat menstimulasi kecerdasannya dan bahkan dapat mempertinggi kemampuan pengembangan bahasanya kelak.
3.      Hindari situasi tertekan karena kondisi ini bisa meningkatkan level hormon janin pada tahap yang dapat memblokir proses kemampuan pembelajaran pralahir.
4.      Carilah kegiatan belajar sendiri. Apapun itu. Walaupun janin tidak akan belajar secara langsung dari aktifitas sang ibu, akan tetapi perilaku mental ibu yang sehat akan menjadi kenyamanan dan keamanan tersendiri bagi janin dan hal itu akan memberinya fondasi perilaku yang positif terhadap pembelajaran setelah dia lahir.
Peran (calon) ayah dalam hal ini tidak kalah pentingnya. Karena tidak sedikit perilaku mental (calon) ibu yang tertekan ditimbulkan oleh perilaku ayah yang kurang menunjukkan dukungan moral pada ibu yang sedang mengandung. Istri yang hamil secara fisik umumnya kurang fit. Adalah tugas suami untuk memberi dukungan penuh untuk menjamin kondisi mental istri dalam kondisi stabil sampai janin lahir ke dunia. Apabila segala usaha sudah dijalankan secara maksimal, maka tawakkal adalah pola pikir paling positif yang disukai Allah sambil menunggu kelahiran sang buah hati.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
  Dari uraian di atas dapat disimpulkan manusia diciptakan oleh Allah dari tanah (turaab) dan beberapa fase yang sampai melahirkan adalah sembilan bulan. Pandangan islam menerangkan bahwa Alam janin dipengaruhi oleh dua hal; yakni kesucian sumber (halal) dan mutu gizi makanan yang menyusun organ janin, yang diserap orang tuanya sebelumnya. Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dapat dipengaruhi oleh faktor sebelum lahir (prenatal), saat kelahiran (perinatal) dan setelah kelahiran (postnatal). Berdasarkan hasil penelitian diyakini perangsangan janin dalam kandungan berefek pada kecerdasan.
Waktu yang tepat untuk mendidik anak adalah ketika sejak ada di dalam kandungan, ini karena anak sudah mulai peka terhadap keadaan di sekitar dia. Adapun usaha yang dilakukan dengan cara pembinaan perilaku dan akhlak mulia, baik dengan cara berdialog dengan janin maupun membacakan ayat suci Al-Qur’an

B.     Saran
Kita sebagai makhluk ciptaan Allah dengan ini diharapkan dapat berusaha sesuai untuk diri kita maupun untuk keluarga. Kehidupan keluarga tak lepas dari anak, Agar anak kita menjadi lebih baik, maka perlu penanaman ilmu sejak dalam kandungan, dan dimulai dengan sikap iman dan taqwa orang tua kita kepada Allah.
Demikian uraian yang telah kami paparkan, melalui makalah ini penulis memohon maaf apabila dalam penulisan ini masih banyak kekurangan, maka  dengan ini penulis mohon kritik dan saran dari pembaca.



DAFTAR PUSTAKA

Al Mandari, Syaifudin. 2004. Rumahku Sekolahku. Jakarta: Pustaka Zahra.
Anne Ahira. 2010. Tehnik Mendidik Anak dalam Kandungan. Direktorat Jendral HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969.
Mansur, Dr., M.A. 2007. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muchtar, Jauhari, Heri. 2005. Fikih Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suyanto, Slamet, Drs. M.Ed. 2005. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat.
Syuhud, Fatih, Ahamd. 2010. Pendidikan Islam Pranatal dalam Kandungan. Malang: Buletin Santri Ponpes Al-Khoerot Putra.



[1] Heri Jauhari Muchtar. 2005. Fikih Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 60
[2] Syaifudin Al Mandari, Rumahku Sekolahku, Jakarta: Pustaka Zahra, 2004, cetakan 2 hal. 90
[3] A. Fatih Syuhud, Pendidikan Islam Pranatal dalam Kandungan, Malang: Buletin Santri Ponpes Al-Khoerot Putra, 2010, hal 2
[4] Dr. Mansur, M.A. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cetakan kedua, 2007, hal. 18.
[5] Drs. Slamet Suyanto, M.Ed, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat, 2005, hal. 35
[6] Ibid....hal. 39
[7] Anne Ahira, Tehnik Mendidik Anak dalam Kandungan, Direktorat Jendral HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J00-2007027969, 2010,  hal 2
[8] Syaifudin Al Mandari..... hal. 91-92
[9] A. Fatih Syuhud, Pendidikan Islam Pranatal dalam Kandungan,....... hal. 3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar