Selasa, 12 Juli 2011

Cara Membuat Laporan Bulan Bhkati Gotong Royong Masyarakat

LAPORAN PELAKSANAAN
BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT
( BBGRM )








DESA     : TLOGOSARI
KECAMATAN     : AYAH
KABUPATEN     : KEBUMEN

TAHUN 2011
LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN
BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT (BBGRM)
DESA TLOGOSARI KECAMATAN AYAH KEBYPATEN KEBUMEN
TAHUN 2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam menuju Desa swasembada, maka dengan ini masyarakat Desa Tlogosari sebagai salah satu bagian dari masyarakat Desa di Tlogosari Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen berperan serta secara aktif dalam menyukseskan program Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ). Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ini merupakan salah satu program unggulan dari pemerintah yang pelaksananya dimulai pada tahun 2011.

Dasar Pelaksanaan
Dasar dari pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) ini adalah :
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 tahun 2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat.
Surat Gubernur Nomor : 411. 2107743 tanggal 13 April 2009 perihal identifikasi pencanangan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ).
Surat dari Bupati Kebumen Nomor : 411. 3 I 00514 tanggal 27 Apnl2011 tentang penyelenggaraan Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ) Tahun 2011.

Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan pelaksanaan Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari adalah meningkatkan kesadaran peran serta masyarakat dalam pembangunan terutama dalam bidang kemasyarakatan, bidang ekonomi, bidang sosial budaya dan agama serta bidang lingkungan. Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat di Desa Tlogosari mulai dari warga masyarakat biasa sampai dengan seluruh lembaga yang ada di Tlogosari yaitu RT,RW,Tim Penggerak PKK,LKMD dll.
Sasaran dari Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat ( BBGRM ) ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat Desa Tlogosari akan pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan terutama dalam bidang kemasyarakatan , bidang ekonomi, bidang sosial dan agama serta bidang lingkungan hidup.

PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENCANANGAN
Persiapan
Persiapan pelaksanaan Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari dimulai pada tanggal 25 Juni 2011 dengan diadakannya musyawarah Pembentukan panitia pelaksanaan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari yang dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat Desa Tlogosari mulai dari RT, RW, LKMD, Tim Penggerak PKK, BPD serta Tokoh Masyarakat.



Pelaksanaan pencanangan
Pelaksanaan pencanangan Bulan bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari dilaksanakan pada tanggal 0l Juli 2011 setelah terbentuknya kepanitiaan tingkat desa. Penyusunan program-program yang akan dilaksanakan dan waktu pelaksanaan dilakukan pada saat itu juga kemudian dilanjutkan sosialisasi kepada warga masyarakat melalui ketua-ketua lingkungan setempat dan tokoh masyarakat.

PELAKSANAAN KEGIATAN
Pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat dilaksanakan satu bulan penuh yaitu pada bulan Agustus 2011 Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh wilayah Desa Tlogosari. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
Bidang Kemasyarakatan
Pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) di bidang Kemasyarakatan antara lain adalah penyuluhan sadar hukum, antisipasi teror, tertib administrasi, kependudukan, dan sadar pajak.

Bidang ekonomi
Pelaksanaan kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat ( BBGRM ) pada bidang ekonomi antara lain perbaikan jalan terutama yang menjadi akses, mengingat selain sebagai petani dan buruh tani masyarakat Desa Tlogosari juga berprofesi sebagai pedagang.

Bidang Sosial dan Budaya
Pelaksanaan kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat ( BBGRM ) pada bidang sosial budaya agama antara lain memberikan santunan terhadap anak-anak yatim yang ada di seluruh Desa Tlogosari terutama yang dalam keadaan tidak mampu. Selain itu juga diadakan kegiatan pengajian-pengajian di masjid dan mushola-mushola diseluruh wilayah Desa Tlogosari.

Bidang Lingkungan
Pelaksanaan kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat ( BBGRM ) pada bidang Lingkungan antara lain adalah kerja bakti membersihkan lingkungan dan saluran air, pembersihan jalan.

PEMBIAYAAN
Pembiayaan dalam semua kegiatan bulan bakti Gotong-Royong masyarakat (BBGRM ). Adalah Swadaya Masyarakat Desa Tlogosari.

PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Permasalahan
Permasalahan yang timbul pada saat pelaksanaan kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) antara lain adalah sulitnya mengkoordinir warga masyarakat Desa Tlogosari untuk melakukan kegiatan terutama kegiatan-kegiatan yang di adakan pada pagi hari. Hal ini terjadi karena kesibukan masyarakat sibuk terhadap pekerjaan masing-masing. Selain itu pembiayaan kegiatan ini menjadi kendala tersendiri mengingat warga masyarakat harus melakukan swadaya sedangkan kemampuan warga secara langsung maupun pengadaan dari kas Desa sangat minim.


Pemecahan
Pemecahan dari permasalahan yang pertama adalah dengan jalan tim pelaksana mencari waktu yang tepat dalam  melakukan kegiatan sebagai contoh pada saat warga melakukan kumpulan RT/RT. Sedangkan untuk permasalahan dana yang bersifat swadaya, maka tim pelaksana melakukan kebijakan bagi warga masyarakat yang karena kesibukanya tidak bisa mengikuti kegiatan, mereka diwajibkan memberikan sumbangan dana yang lebih besar. Adapun untuk warga yang tidak bisa memberikan sumbangan dalam bentuk dana, maka diwajibkan untuk memberikan tenaga yang lebih.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan dalam rangka Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga masyarakat Desa Tlogosari baik secara langsung maupun tidak langsung , dari segi sosiologis (kemasyarakatan), materiil (ekonomi) dan yuridis (hukum) serta agama dan budaya.
Dari segi sosiologis (kemasyarakatan),kehidupan kekeluargaan dan sikap gotong-royong masyarakat Desa Tlogosari akan selalu terpelihara walaupun terkendala dengan berbagai kesibukan kesibukan warga. Sedangkan dari segi materiil (ekonomi), kehidupan ekonomi warga masyarakat semakin meningkat karena hasil panen bertambah dan akses jalan ke areal pertanian semakin mudah. Adapun secara yuridis (hukum), masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya menaati peraturan - peraturan hukum yang berlaku baik secara normatif maupun secara adat. Dari segi agama, dengan dilakukannya pengajian rutin maka kesadaran masyarakat akan pentingnya beribadah semakin meningkat.
Saran
Dari Pelaksanaan kegiatan bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari kami memberikan saran agar program ini dilakukan secara berkelanjutan karena manfaatnya sangat besar,dan untuk pengadaan dana kami mengharap agar dari, pemerintah Kabupaten,Propinsi maupun Pusat agar ada pendanaan dari APBD.

 PENUTUP
Demikian laporan yang dapat kami sampaikan dari pelaksanaan kegiatan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat (BBGRM) Desa Tlogosari..Kami selalu menerima dan saran dari semua pihak demi perbaikan di masa yang akan datang.




Tlogosari, 20 Juni 2011

Kepala Desa Tlogosari,



H.M. ISWANTO


    PEMERINTAH  KABUPATEN  KEBUMEN
KECAMATAN  AYAH
KEPALA DESA TLOGOSARI
Jl. Kendali Sodo No. 01 Tlogosari, Ayah Kebumen 54473.
 Telp. 0828255069   

KEPUTUSAN KEPALA DESA TLOGOSARI, KECAMATAN AYAH,
KABUPATEN KEBUMEN
NOMOR  : 144 / 05 / KEP / 2011
TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PELAKSANA BULAN BHAKTI GOTONG ROYONG
MASYARAKAT DESA TLOGOSARI, KECAMATAN AYAH TAHUN 2011

KEPALA DESA TLOGOSARI,
Menimbang    :    a.    bahwa dalam rangka mengoptimalkan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat Tahun 2011 Tingkat Kecamatan  Ayah, maka perlu adanya Tim Pelaksana Kegiatan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat Desa Tlogosari, Kecamatan Ayah Tahun 2011;
        b.    bahwa untuk keputusan dimaksud dalam huruf a, maka perlu ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa Tlogosari.

Mengingat    :    1.    Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah - daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
        2.    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran  Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Indonesia Nomor  4437 ) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang  Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
        3.    Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan     antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara     Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara     Republik Indonesia Nomor 4438 );
        4.    Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan;
        5.    Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
        6.    Peraturan Pemerintah Nomor 72  Tahun 2005 tentang Desa;
        7.    Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
        8.    Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 9 tahun 2007 Tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa/Kelurahan;
        9.        Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata kerja Kecamatan Dan Kelurahan
        10.    Peraturan Bupati Kebumen Nomor 31Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa ;
        11.    Peraturan Bupati Kebumen Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan;
        12.    Surat Bupati Kebumen Nomor 411.3/0514 Tanggal 27 April 2011 Perihal Penyelenggaraan Bulan Bakti Gotong Masyarakat (BBGRM) Tahun 2011;
   
MEMUTUSKAN :
Menetapkan     :   
KESATU    :    Menetapkan Tim Pelaksana Kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat Desa  Tlogosari (BBGRM) Tahun Anggaran 2011 Tingkat Desa Tlogosari sebagaimana dalam lampiran Keputusan ini;
KEDUA    :    Tim Pelaksana Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat Desa Tlogosari  Tahun  2011 Mempunyai tugas;
a.     Melakukan persiapan, pelaksanaan dan pembangunan tindak lanjut kegiatan Bulan Bakti Gotong-Royong Masyarakat bersama masyarakat;
b.    Melaporkan hasil kegiatan kepada Kepala Desa;
       

KETIGA    :    Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.








    Ditetapkan di     :  Tlogosari
Pada tanggal      :  20 Juni 2011

KEPALA DESA TLOGOSARI,




H.M. ISWANTO   

LAMPIRAN :         KEPUTUSAN KEPALA DESA TLOGOSARI
                    KEC. AYAH, KAB. KEBUMEN
    NOMOR    :    144 / 05 / KEP / 2011
    TANGGAL    :    20 Juni 2011
                    ------------------------------------------------------------------


SUSUNAN TIM PELAKSANA KEGIATAN
BULAN BHAKTI GOTONG-ROYONG MASYARAKAT DESA TLOGOSARI
TAHUN 2011



NO    N A M A    JABATAN    KETERANGAN      
1    2    3    4      
1.    H.M. ISWANTO    KEPALA DESA    Tanggung Jawab       
2.    SUPARNO    KETUA I LKMD    Ketua Pelaksana      
3.    PURNOMO    SAKRET LKMD    Sekertaris Pelaksana      
4.    SLAMET    BENDAHARA LKMD    Pelaksana      
5.    SALAMUN    KPM / TOMA    Anggota      
6.    NARWOTO    TOKOH MAS / KPM    Anggota      
7.    HADI SOLIHIN    TOKOH MAS / KPM    Anggota      
8.    SAMIRAT    TOKOH MAS / KPM    Anggota      
9    SARIYEM    TOKOH MAS / PKK    Anggota   

 
    KEPALA DESA TLOGOSARI,




H.M. ISWANTO   

Isu Islamisasi Ilmu Pengetahuan Pendidikan Islam

ISU ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang haq hingga akhir masa. Islam agama yang komprehensif karena islam adalah tutunan dalam menjalani kehidupan ini, segala laku kita sudah tercantum tutunannya dalam al-Qurán dan al-Hadits jadi jika kita hidup dengan memegang tutunan itu maka layaknya seorang pengelana maka dia tidak akan tersesat karena dia mempunyai peta guna membuatnya sampai ketempat tujuan walaupun dalam menjalaninya ditempuh dengan susah payah.

Dalam Islam sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rosulullah saw:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ   خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ   اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ   عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1],, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq, 1-5)


Adalah wahyu yang mengetengahkan ilmu yang harus dimiliki guna menjalankan agama Allah swt ini, yaitu dengan ilmu Allah, maka tidak heran mengapa Rosulullah menjawab: “saya tidak bisa membaca” bukan berarti beliau tidak bisa baca tulis atau bukan beliau bodoh yang tidak bisa menggunakan pikirannya. Justru jawaban tersebut menggambarkan pandangan yang jauh dan murni, seperti halnya para malaikat tatkala diperintahkan untuk menjelaskan al-Asma mereka menjawab:     سبحنك لا علم لنا الاماعلمتنا

Wahyu adalah diatas segalanya akalpun tak sanggup menjangkaunya, hanya qolbu yang bersih akan tersentuh oleh wahyu. Karena wahyu adalah bahasa Allah yang berbicara tentang hakekat kebenaran (Haq).

Sesungguhnya ilmu itu dari Allah yang diajarkan didalam kitabnya dan tidak pernah ada suatu ilmupun yang tidak diterangkan dalam al-kitab atau terlepas dari al-Qurán.

Jadi dalam kehidupan ini kita membutuhkan ilmu pengetahuan, baik dalam memahami Islam juga dalam memahami alam beserta isinya yang telah Allah swt ciptakan, kita membutuhkan uraian ilmu yang terkandung dalam al-Quránul karim sebagai mana perkataan DR. Zakir Naik[2] dalam Dialognya mengenai Ilmu pengetahuan dari sisi al-Qurán dan Injil beliau, mengatakan:

“al-Qurán bukanlah ilmu pengetahuan ia adalah buku tentang tanda, ia buku tentang ayat-ayat dan disana ada 6000 ayat dalam al-qurán yang agung yang di dalamnya ada lebih dari 1000 uraian tentang ilmu pengetahuan”. Yang didalamnya terdapat ribuan tanda bagi orang yang mau membuka mata pikiran dan hatinya, karena orang-orang yang mendengar tetapi tuli, melihat tetapi buta dan berbicara tetapi bisu. Sebagaimana Allah swt berfirman:


صُمُّ بُكْمٌ عُمْىُُ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta[3], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Baqarah, 18)


Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran antara kitab suci dan ilmu pengetahuan yaitu pendekatan kesesuaian dan pendekatan konflik. Yaitu pendekatan kesesuain antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, atau pendekatan konflik dimana mencari ketidak samaan antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, namun dengan pendekatan apapun al-Qurán sepanjang anda berpikir logis dan setelah penjelasan logis diberikan pada anda tak seorang dapat membuktikan satu ayat pun dalam kitab suci al-Qurán untuk dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern[4].

Dari penjabaran latar belakang diatas penulis ingin membuat beberapa hal yang menjadi perhatian atau yang akan dibahas dalam makalah ini menyangkut islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
Dua pengembang Islamisasi ilmu pengetahuan yang terkenal.
Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan.
Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer.

B. Pembahasan
Pada hakekatnya ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of knowledge) ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Islam di zaman moderen ini. Ide tersebut telah diproklamirkan sejak tahun 1981, yang sebelumnya sempat digulirkan di Mekkah sekitar tahun 1970-an.

Dalam islamisasi dikenal dua nama yang disebut-sebut sebagai penyebar faham ini keseluruh penjuru negeri, yaitu Naquib al-Attas dan Ismail al-Faruqi, dimana kedua sama-sama mengumandangkan Isu Islamisasi Ilmu Pengetahuan tetapi dengan dua jalan yang berlainan.

Al-Attas vs Al-Faruqi[5]
Konstruk intelektual yang dinisbatkan pada peradaban tertentu, biasanya memiliki spektrum yang cukup luas.  Ia tidak bisa dibaca sebagai sesuatu yang tunggal dan serba seragam.  Demikian halnya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perkembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya.  Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut.

Namun ada beberapa konsep-konsep dasar yang menjadi titik persamaan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan berbagai sarjana Muslim. Misalnya jika kita melihat pada dua nama yang cukup berpengaruh di dunia Islam dan dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan: Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

Bagi Al-Attas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.  Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya.

Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman.  Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah.  Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Atas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler. Singkatnya menurut Al-Attas sukses tidaknya pengembangan islamisasi ilmu tergantung pada posisi manusia itu sendiri (subjek ilmu dan teknologi).

Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam.

Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya.  Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.

Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini maka setiap disiplin ilmu mesti dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah.  Ia harus didefinisikan dengan cara baru, data-datanya diatur, kesimpulan-kesimpulan dan tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam.

Di samping beberapa kesamaan pola dasar islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dapat dilihat dari paparan di atas, agaknya ada segaris perbedaan di antara al-Attas dan al-Faruqi.  Al-Faruqi tampaknya lebih bisa menerima konstruk ilmu pengetahuan modern yang penting baginya adalah penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan cara yang berbeda.  Sementara Al-Attas disamping pengaruh sufisme yang cukup kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka islamisasi ilmu pengetahuannya lebih menekankan pada dikedepankannya keaslian (originality) yang digali dari tradisi lokal.

Dalam pandangan Al-Attas, peradaban Islam klasik telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri. Tanpa bantuan ilmu pengetahuan barat modern, diyakini dengan merujuk pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan peradaban.

Agaknya, perbedaan semacam ini, disamping faktor-faktor personal, yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang berbeda. Jika al-Attas kemudian berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Al-Attas memformulasi dua tujuan pertama dari ISTAC:

1. Untuk mengonseptualisasi, menjelaskan dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan dan epistimologi yang dihadapi muslim pada zaman sekarang ini.

2. Untuk memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran-aliran pemikiran, agama, dan ideologi.

Sementara itu al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. IIIT mendefinisikan dirinya sebagai sebuah “yayasan intelektual dan kultural” yang tujuannya mencakup:

Menyediakan wawasan Islam yang komprehensif melalui penjelasan prinsip-prinsip Islam dan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dari pemikiran kontemporer.
Meraih kembali identitas intelektual, kultural dan peradaban umat, lewat Islamisasi humanitas dan ilmu-ilmu sosial.
Memperbaiki metodologi pemikiran Islam agar mampu memulihkan sumbangannya kepada kemajuan peradaban manusia dan memberikan makna dan arahan, sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan Islam.
Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan[6]

Terdapat beberapa model skematis dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Al Faruqi misalnya menggagaskan sebuah rencana kerja dengan dua belas langkah:
1. Penguasaan dan kemahiran disiplin ilmu modern: penguraian kategori
2. Tinjauan disiplin ilmu
3. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah antologi
4. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah analisis
5. Penentuan penyesuaian Islam yang khusus terhadap disiplin ilmu
6. Penilaian kritikal terhadap disiplin ilmu modern: hakikat kedudukan pada masa kini.
7. Penilaian kritikal terhadap warisan Islam: tahap perkembangan pada masa kini.
8. Kajian masalah utama umat Islam
9. Kajian tentang masalah yang dihadapi oleh umat manusia
10. Analisis kreatif dan sintesis
11. Membentuk semua disiplin ilmu modern kedalam rangka kerja Islam: buku teks
universitas.
12. Penyebaran ilmu pengetahuan islam

Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern.
Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam.
Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern.
Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah.

Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.

Sementara Al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psikologi dari kebudayaan dan peradaban Barat.

Ilmu pengetahuan Barat-modern dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. (1) Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; dan (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Oleh karena itu, Islam harus menjadi acuan yang menentukan dalam prinsip utama setiap displin ilmu untuk setiap usaha dan perbuatan manusia. Ada empat poin yang harus diperhatikan, seperti:

1)      Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam,
2)      Pencapain sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam,
3)      Bagaimaan kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari,
4)      Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermanfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.

Faktor lain selaras dengan pandangan di atas adalah masih menduanya sistem pendidikan. Pertama, sistem pendidikan “modern” dan kedua, sistem pendidikan “Islam”. Dualisme pendidikan ini melambangkan kejatuhan umat Islam. Hal ini perlu diatasi, jika tidak sistem dualisme tersebut akan tetap menjadi penghalang setiap usaha rekontruksi peradaban Islam.

Renungan ini sangat penting, karena apabila kita memperhatikan secara cermat, pengalaman masa lampau serta rencana masa depan menuju satu arah perubahan yang dinginkan, maka harus dimulai dari rumusan sistem pendidikan yang paripurna. Apa yang telah Al-Attas dan Al-Faruqi paparkan, itu merupakan langkah “dasar” untuk bertahannya peradaban Islam.

1.Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer[7]

Proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki tiga fase. Prof. Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains yang berasal dari Universitas Harvard mengatakan, gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) dengan mendirikan perpustakaan yang dinamakan dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat kajian, menunjukkan fase pertama dari tiga tahap islamisasi sains. Adapun tahap kedua, yaitu fase peralihan atau akuisisi, di mana sains Yunani hadir di hadapan peradaban Islam sebagai pendatang atau tamu yang sengaja diundang (an invited guest), bukan sebagai penjajah atau perusak (an invading force). Namun pada tahap ini Islam masih menjaga jarak serta berhati-hati selalu waspada. Kemudian tahap terakhir adalah fase penerimaan atau adopsi, di sini Islam telah mengambil dan menikmati apa yang dibawa serta oleh peradaban tersebut.

Pada saat itu pula kemudian lahirlah ilmuwan-ilmuwan hebat seperti: Jabir ibn Hayyan (w.815 M), al-Kindi (w.873), dan lain-lain. Proses ini tidak berhenti di sini saja namun terus berlanjut ke tahap asimilasi dan naturalisasi. Pada fase ini Islam telah mampu membuat dan mengkonsep ulang ilmu pengetahuan yang syarat akan nilai-nilai keislaman sehingga islam sanggup menjadi pionir dunia di bidang sains dan teknologi. Fase kematangan ini terus berlangsung selama kurang lebih 500 tahun lamanya, dan telah ditandai dengan hasil produktivitas yang tinggi dan tingkat orisinalitas keilmuwan yang benar-benar luar biasa.

Dari paparan di atas, kini jelaslah sudah bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan waktu. Ada satu hal yang mungkin kadang terlupakan, yakni kesadaran akan setiap hasil pemikiran manusia yang selalu bersifat historis dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk itu gagasan islamisasi harus tetap dikembangkan, dilaksanakan, dan kemudian dievaluasi melalui konsep-konsep, ukuran serta standar sebagai produk “framework islami” yang selalu melibatkan “worldview Islam”.


C. Kesimpulan


Berdasarkan dari pembahasan diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa islamisasi ilmu pengetahuan sangatlah penting melihat dari keadaan umat islam yang hanya menjadi penonton bagi kehancuran dunia ini. Karena para ilmuan bukan islam ini hanya akan membawa kehancuran bagi ciptaan-ciptaan Allah swt. Hal-hal yang perlu dan harus dilakukan adalah:
Generalisai pemahaman konsep aqidah islam pada seluruh institusi pendidikan khususnya institusi pendidikan muslim yang ada di Indonesia.
Human Resouces Development atau pengembangan sumber daya manusia khususnya bagi pendidik atau tutor.
Sosialisasi konsep aqidah islam pada seluruh aspek kehidupan baik latar belakang pendidikan maupun non pendidikan.
Praktek kerja sebagai terapan dari pemahaman konsep aqidah islam bagi anak didik secara global baik nasional maupun internasional.
Evaluasi diri atau feedback sebagai aktualisasi diri dari pemahaman konsep aqidah islam tersebut diatas (Islamisasi secara keseluruhan).


D. Daftar Isi


Http://Michailhuda.Multiplay.Com/Journal/Item/157/Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan_Posisi_Lembaga_Pendidikan_Tinggi_Islam_Di_Indonesia.


Http://Www.Inpasonline.Com/Index.Php?Option=Com_Content&View=Article&Id=401.Kebutuhan_Mendesak_Terhadap_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan


Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm


Http://Mpiuika.Wordpress.Com/2010/01/Tiga-Fase-Islamisasi-Ilmu-Pengetahuan-Kontemporer/


Http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.format=pdf


Http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/02/pemikiran-ismail-raji-al-faruqi.html


Http://belajarisalam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=338:pemikiran-pendidikan-menurut-s-m-naqiub-al-attas


Http://annajah.info/index.php


www.hidayatullah.com


Nata Abudin. 2005. “Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Jakarta: UIN Jakarta Press


Departeman Agama RI. “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Jakarta: PT. Syaamil Cipta Media.


Wan Mohd Nor Wan Daud. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Bandung: MIZAN Anggota IKAPI.


MAJALAH ISLAMIA. “Epistemologi Islam dan Problem Pemikiran Muslim Kontemporer”. Thn II No. 5 April-Juni 2005.


MAJALAH ISLAMIA. “Membangun Peradaban Islam dari Dewestranisasi Kepada Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Thn II No. 6, Juli-September 2005.









[1] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.


[2] President Islamic Research Foundation


[3] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.


[4] Debat al-Qurán dan Injil dari sudut pandang ilmu pengetehuan antara Dr. William Cambell (Pennysylvania, USA) dan Dr. Zakir Naik (Mumbai, India). 2000


[5]Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm


[6] Ibid, hal

[7]Http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.format=pdf

MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP

MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Islam mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia bidang lingkungan hidup. Sebagai mahluk penciptaan Allah, manusia telah banyak dibekali ilmu pengetahuan untuk di kembangkan dan dimanfaatkan untuk diri dan lingkungannya.
Pada dasarnya pemanfaatan atau pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup sangat berpengaruh penting pada kelangsungan ekosistem di dalamnya.  Dengan demikian  pada saat ini upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup terus dilakukan, dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, sehingga dapat kita rumuskan masalahnya sebagai berikut :
1)    Apa pengertian lingkungan hidup ?
2)    Apa dasar dan fungsi lingkungan hidup ?
3)    Apa peran manusia terhadap lingkungan hidupnya?

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Lingkungan Hidup
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pengertian Lingkungan Hidup menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Lingkungan hidup yang tertera pada undang-undang di atas merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen itu. Pada ruang ini berlangsung ekosistem, yaitu suatu susunan organisme hidup dimana diantara lingkungan abiotik dan organisme tersebut terjalin interaksi yang harmonis dan stabil, saling memberi dan menerima kehidupan.

Dasar dan Fungsi Lingkungan Hidup
Mahluk hidup pada dasarnya selalu dinyatakan dalam suatu unit populasi, sedangkan populasi sendiri adalah kumpulan individu yang mempunyai potensi untuk berkembang biak. Dalam keadaan populasi yang selalu meningkat, maka persaingan antar individu pun meningkat. Persaingan tersebut berakibat efek ekologi dan efek evolusi.
Ekologi lebih ditekankan pada lingkungan alam, khususnya hubungan antara organisme dengan sekitarnya.
Menurut ahli lingkungan hidup, Soerjini (1982), ada beberapa konsep dasar ilmu ekologi, antara lain:
1.    Ekosistem;
2.    Sistem produksi, konsumsi dan dekomposisi;
3.    Materi dan energi;
4.    Keseimbangan;
5.    Faktor-faktor keterbatasan dan daya dukung;
6.    Daya dukung dan strategi adaptasi.
Sedangkan fungsi lingkungan hidup bagi manusia, antara lain:
Sebagai tata ruang bagi keberadaaanya. Ini mencakup segi estetika dan fisika yang berbentuk dalam diri manusia sebagai dimensi jasmani, estetika dan fisika yang berbentuk dalam diri manusia sebagai dimensi jasmani, rokhani dan kebudayaan.
Sebagai penyedia (sustenance) berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Dalam hal ini manusia memanfaatkan segi produktifitas dari lingkungan secara eksploitatif (meraup) yang menghasilkan sumber-sumber daya alam yang dapat memanfaatkan manusia guna kepentingan dirinya.

Dalam firman Allah Qur’an Surat Huud ayat 61, diterangkan:
... uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚö‘F{$# óOä.tyJ÷ètGó™$#ur $pkŽÏù ...... ÇÏÊÈ  
Artinya:   
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya ” ( Q.S. Huud: 61)

Peran Manusia Terhadap Lingkungan Hidup
Dalam Islam, manusia mempunyai peranan penting dalam menjaga kelestarian alam (lingkungan hidup). Islam merupakan agama yang memandang lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seseorang terhadap Tuhannya, manifestasi dari keimanan seseorang dapat dilihat dari perilaku manusia, sebagai khalifah terhadap lingkungannya. Islam mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian alam (lingkungan hidup).
Kesadaran manusia tentang pentingnya lingkungan hidup telah dikenal manusia dari dahulu. Karena perilaku seseorang dari masa lalu yang berkaitan dengan lingkungan hidup, maka dibuktikan dengan adanya usaha manusia untuk memahami lingkungan alamiahnya.
Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna, sehingga manusia diberikan tugas untuk menjaga kelestarian lingkungan hidupnya. Seperti pada dalil Al-Qur’an berikut ini:
ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ  
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. ( Q.S. At-Tiin: 4)

Dalam Kebijakan Nasional dan Daerah dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup yang tertuang pada Progam Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya alam dan Pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. Ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Sasaran program ini adalah tersediaanya sarana bagi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sejak proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan.
Usaha manusia untuk mengelola lingkungan hidupnya sudah dimulai dari jaman tradisional sampai dengan jaman modern. Bisa disebutkan saja untuk sekarang ini dalam meningkatkan kelestarian alam, pemerintah sudah membuat aturan-aturan yang bertujuan agar alam ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh orang banyak, khususnya anak cucu kita.
Akan tetapi karena kurangnya kesadaran dari berbagai pihak, alam ini sebagian besar sudah di eksploitasi oleh individu yang hanya mementingan diri sendiri, tanpa memikirkan nasib dan keadaan lingkungan hidupnya. Terkait dengan tersebut, maka sebagai mahluk ciptaan Allah yang beriman, kita hendaknya selalu taat dan patuh pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar hati dan pikiran kita selalu selalu diarahkan pada hal-hal kebaikan.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Mahluk hidup pada dasarnya selalu dinyatakan dalam suatu unit populasi, sedangkan populasi sendiri adalah kumpulan individu yang mempunyai potensi untuk berkembang biak. Dalam keadaan populasi yang selalu meningkat, maka persaingan antar individu pun meningkat. Persaingan tersebut berakibat efek ekologi dan efek evolusi.
Fungsi lingkungan hidup bagi manusia, antara lain: sebagai tata ruang bagi keberadaaanya dan sebagai penyedia (sustenance) berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Islam mengajarkan untuk umat-Nya agar selalu menjaga lingkungan hidup, karena Islam mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian alam (lingkungan hidup).

B.    Saran
Kita sebagai makhluk ciptaan Allah, harus lebih memperhatikan keadaan lingkungan hidup hidup kita. Khususnya peran ini bertujuan untuk melestarikan dan mencegah kerusakan alam ini agar kelangsungannya dapat kita manfaatkan bersama untuk kehidupan kita dan anak cucu kita di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Adnan dkk. 1997.  Islam dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy.
Kristanto, Philip, Ir., 2002. Ekologi Industri, Yogyakarta: Andi Offset.
Alamendah. 2009. Manusia, Khalifah Penjaga Kelestarian Alam (Artikel).
Sudarmadji. 2008. Pembangunan Berkelanjutan, Lingkungan Hidup Dan Otonomi Daerah (Artikel).
___________, 2006. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: C.V Diponegoro

AKIBAT PENGRUSAKAN TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

AKIBAT PENGRUSAKAN TERHADAP
LINGKUNGAN HIDUP

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kerusakan lingkungan hidup pada saat ini mencapai puncak yang sangat tinggi. Kerusakan-kerusakan ini mengakibatkan beberapa faktor yang perlu kita atasi bersama. Kerusakan lingkungan hidup dapat disebabkan oleh campur tangan manusia, yang dapat deskripsikan dengan bertambahnya manusia yang berperan sebagai konsumen, para produsen memproduksi produk mereka agar memenuhi kebutuhan konsumen mereka. Sedangkan semakin banyak produk yang dikeluarkan oleh industri mengakibatkan kerusakan alam khususnya pada lingkungan hidup yang berada di bumi ini.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, sehingga dapat kita rumuskan masalahnya sebagai berikut :
1)    Apa pengertian lingkungan hidup ?
2)    Apa unsur-unsur lingkungan hidup ?
3)    Bagaimana akibat kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh manusia?

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Lingkungan Hidup
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pengertian Lingkungan Hidup menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Lingkungan hidup sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang tersebut merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen itu disebut ruang.
Pada ruang ini berlangsung ekosistem, yaitu suatu susunan organisme hidup dimana diantara lingkungan abiotik dan organisme tersebut terjalin interaksi yang harmonis dan stabil, saling memberi dan menerima kehidupan.

Unsur-unsur Lingkungan Hidup
Adapun unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:
Unsur Hayati (Biotik)
Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
Unsur Fisik (Abiotik)
Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

Bahaya Perusakan Lingkungan Hidup
Tujuan bumi beserta isinya diciptakan oleh Allah adalah untuk kesejahteraan manusia, akan tetapi karena kesemena-menanya manusia sehingga menimbulkan bahaya pada kelestarian lingkungan hidup.
Dengan adanya kerusakan alam ini, akan berakibat pada kehidupan manusia. Adapun akibat tersebut dikarenakan campur tangan manusia itu sendiri. Manfaat dari lingkungan hidup adalah agar manusia dapat hidup dengan sejahtera. Untuk itu manusia perlu mengetahui hal-hal yang dapat merusak lingkungan hidup. 
Adapun yang dapat merusak lingkungan hidup  dan alam antara lain:
a.    Eksploitasi Air dan Pencemaran Lingkungan
Firman Allah:
... $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ... ÇÌÉÈ   

Artinya:
“.....dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..”
 (Q.S. Al-Anbiya: 30)

Dalam Al-Qur’an di atas menegaskan bahwa air adalah sumber dari kehidupan bagi semua mahluk di jagat raya ini. Akan tetapi karena ulah manusia, baik dalam kegiatn industri, pertanian, transportasi, energi dan pemukiman, membuang limbah ke sungai, tanah dan laut sehingga meningkatkan kadar pencemaran air.
b.    Merosotnya Kualitas Tanah, Hutan, Pertambahan Penduduk, dan Eksploitasi Alam.
Kerusakan lingkungan hidup akibat populasi manusia dan dan eksploitasi alam yang berlebihan akan mempengaruhi keadaan lingkungan. Semakin banyak manusia tinggal di suatu daerah maka kebutuhan hidup juga bertambah. Dengan bertambahnya manusia yang berperan sebagai konsumen, para produsen memproduksi produk mereka agar memenuhi kebutuhan konsumen mereka.
Sedangkan semakin banyak produk yang dikeluarkan oleh industri mengeluarkan limbah yang dibuang ke lingkungan. Limbah inilah yang mengakibatkan kerusakan alam khususnya pada lingkungan hidup.
c.    Menciutnya Keragaman Hayati.
Keragaman hayati dapat dikatakan tulang punggung kehidupan, baik dari segi ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Misalnya dari segi tumbuhan dan mikroba, suatu kelompok masyarakat mampu meramu obat (tradisional) yang sekarang mulai diminati lagi dan sekarang juga sudah mulai di fungsikan untuk pembuatan obat  yang bersifat modern.
Akan tetapi karena ulah tangan manusia yang semena-mena, sehingga tingkat keanekaragaman hayati menurun karena pohon-pohon ditebangi secara liar dan hewan-hewannya dibunuh secara semena-mena. Di laut berbagai jenis penyu, ikan hiu dan paus punah karena pengeboman. Selain itu keanekaragaman hayati juga dapat memepengaruhi menurunnya habitat alamiah karena habitat buatan.
d.    Perubahan Iklim Akibat Pemanasan Global.
Pemanasan global muncul karena kegiatan manusia semakin banyak menghasilkan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida. Menurut hasil penelitian para ahli, semakin banyak gas karbon dioksida dilepaskan ke udara dari hasil kegiatan manusia, akan semakin mempercepat kenaikan suhu di permukaan bumi. Kenaikan suhu di permukaan bumi mempengaruhi iklim di bumi, dan akan berdampak negatif pada kehidupan.
Peningkatan kadar suatu gas yang tidak layak dan disebur gas rumah kaca yang diakibatkan dari berbagai limbah gas yang berasal dari pabrik, kendaraan bermotor, percobaan nuklir, penebangan dan pembakaran hutan dan lain-lain. Peningkatan gas karbon dioksida yang terus berlangsung, dan tanpa ada tindakan manusia untuk menguranginya, diramalkan 100 tahun kemudian suhu bumi akan naik. Kenaikan suhu ini menyebabkan perubahan iklim yang cukup berarti, dan akan disertai dengan berbagai bencana alam seperti angin badai, naiknya permukaan laut, mencairnya es di puncak gunung dan es di kutub, punahnya flora dan fauna yang tidak tahan terhadap perubahan.
e.    Tekanan Perkembangan Penduduk.
Hal-hal yang menjadi tekanan perkembangan dalam penduduk mempunyai 2 aspek, yaitu:
1.    Aspek Kependudukan
Masalah-masalah kependudukan sebagian besar disebabkan karena tingkat pertumbuhan penduduk yang itnggi, struktur umum penduduk muda, penyebaran yang tidak proporsional dengan sebaran sumber daya alam serta daya dukung lingkungan, dan terjadinya urbanisasi.
2.    Aspek Kemiskinan
Kemiskinan merupakan sebuah kondisi serba kekurangan yang terjadi pada kelompok masyarakat karena ketidakberdayaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada pada masyarakat miskin tersebut.
Adapun islam mengajarkan dalam sebuah dalil sebagai berikut:

 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ .... ÇÊÊÈ  

Artinya:
“ Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...”.
 (Q.S. Ar-Ra’du :11)


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Lingkungan hidup merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen.
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga unsur, yaitu unsur hayati (biotik), unsur sosial budaya,dan unsur fisik (abiotik). Bahaya perusakan lingkungan hidup akan berakibat pada kehidupan manusia. Adapun akibat tersebut dikarenakan campur tangan manusia itu sendiri. Manfaat dari lingkungan hidup adalah agar manusia dapat hidup dengan sejahtera. Adapun yang dapat merusak lingkungan hidup  dan alam antara lain: eksploitasi air dan pencemaran lingkungan; merosotnya kualitas tanah, hutan, pertambahan penduduk, dan eksploitasi alam; menciutnya keragaman hayati; perubahan iklim akibat pemanasan global; dan tekanan perkembangan penduduk.

B.    Saran
Seharusnya kita sebagai manusia ciptaan Allah, harus lebih memperhatikan keadaan lingkungan hidup hidup kita. Kita harus berupaya melestarikan dan mencegah kerusakan alam ini agar kelangsungannyadapat kita manfaatkan bersama untuk kehidupan kita dan anak cucu kita di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Adnan dkk. 1997.  Islam dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy.
Kusuma, Afandi. 2009. Lingkungan Hidup, Kerusakan Lingkungan dan Pelestariannya. http://m.cybermq.com.
___________, 2006. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: C.V Diponegoro.
___________, 2008. Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Populasi Manusia. Sidoarjo.

ALAM SEMESTA SEBAGAI CIPTAAN ALLAH UNTUK MANUSIA

ALAM SEMESTA SEBAGAI
CIPTAAN ALLAH UNTUK MANUSIA
BAB I
PENDAHULUAN

Alam semesta beserta isinya, baik langit, bumi, planet-planet, tata surya, bulan, bintang dan sebagainya itu adalah bukti kekuasaan Allah. Manusia merupakan mahluk yang diciptakan oleh Allah paling sempurna. Maka dengan ini melalui akal dan ilmu pengetahuannya harus dapat mengelola sumber daya alam (SDA) dengan memperhatikan kepentingan masa kini dan kepentingan masa yang akan datang. Alam semesta diciptaan oleh Allah semata-mata adalah untuk kebutuhan manusia. Akan tetapi pada hakikatnya penciptaan ini perlu dilestarikan, dijaga dan disyukuri agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dalam makalah ini, penulis membahas hal-hal yang pokok mulai yang pertama adalah pengertian alam semesta, yang berisi tentang berbagai pendapat tentang adanya alam ini. Kedua membahas tentang penciptaan alam semesta, yang membahas tentang proses penciptaan alam, mulai dari dalil dan kedudukannya. Dan yang ketiga, membahas tentang tugas manusia sebagai pengemban amanat Allah terhadap alam semesta. Dari ketiga bahasan ini perlu diuraikan melalui bab berikut ini.

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Alam Semesta
Alam semesta dengan konsep filsafat eksistensi Plato yang dikembangkan oleh Al-Maturidi tentang ada adanya (ada) diadakan oleh adanya ada. Adanya ada tidak diadakan dengan adanya (ada) sehingga adanya ada, ada dengan sendirinya.
Dalam Firman Allah di tegaskan:

uqèd ãA¨rF{$# ãÅzFy$#ur ãÎg»©à9$#ur ß`ÏÛ$t7ø9$#ur ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÌÈ 
Artinya:
Dialah yang Awal dan yang akhir, yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.(Q.S. Al-Hadid: 3)

Adapun dari dalil di atas, yang dimaksud dengan yang Awal ialah, yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, yang akhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, yang Zhahir ialah, yang nyata adanya karena banyak bukti-buktinya dan yang Bathin ialah yang tak dapat digambarkan hikmat zat-Nya oleh akal.
Penciptaan Alam Semesta
Berjuta-juta tahun yang lampau, semua mahluk dan semua isi planet ini sebenarnya tidak ada. Langit, bumi, gunung-gunung, flora dan fauna, sungai, laut,  bulan bintang dan matahari, bahkan manusiapun belum ada. Demikian pun mahluk seperti malaikat, jin, iblis, juga belum ada. Yang ada hanyalah Allah SWT. Kemudian Allah kodrat dan iradatnya menciptakan alam semesta ini.
Allah menciptakan alam semesta ini dalam enam periode atau masa, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:
uqèdur “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­GÅ™ 5Q$­ƒr& šc%Ÿ2ur ¼çmä©ötã ’n?tã Ïä!$yJø9$# öNà2uqè=ö7uŠÏ9 öNä3•ƒr& ß`|¡ômr& WxyJtã 3 ... ÇÐÈ  
Artinya:
dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya...(Q.S. Hud: 7)

Dalam ayat di atas dimaksudkan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.
Sehingga melalui kuasa Allah diciptakan alam semesta ini beserta isinya. Selain itu Allah juga mengatur pergantian siang dan malam serta peredaran bumi, bulan dan matahari sehingga manusia dapat menyaksikan keteraturan dan keserasian alam ciptaan-Nya.
Firman Allah dalam Surat Yunus ayat 3, sebagai berikut:

¨bÎ) ÞOä3­/u‘ ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­GÅ™ 5Q$­ƒr& §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸöyèø9$# ( ãÎn/y‰ãƒ tøBF{$# (... ÇÌÈ  
Artinya:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan.( Q.S. Yunus : 3)
Maka dengan ini sudah sewajarnya manusia senantiasa berfikir tentang keagungan, kebesaran dan kekuasaan Allah segala sesuatu atau apa saja yang diciptakan oleh-Nya. Akan tetapi bila diamati lebih jauh, sebenarnya Al-Qur’an telah menambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena yang membimbing manusia kepada Allah serta keajaiban dan keagungannya.
Tugas Manusia Sebagai Pengemban Amanat Allah
Al-Qur’an berusaha mengangkat derajat manusia pada kedudukan yang tinggi, dengan memberikan kemampuan kepadanya untuk melihat dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah. Orang yang berilmu pengetahuan dan yang memiliki akal yang mampu melihat hakitat alam semesta, kekuasaan yang hak, yang mengendalikan dan mengatur keseluruhannya.
Setelah manusia diciptakan, Allah menganugrahi manusia dengan pengetahuan dan pengertian unsur dari alam semesta agar dapat menggali dan memanfaatkan kekayaan yang ada di bumi dan ada di langit bagi kesejahteraan hidupnya. Kekayaan pengetahuan inilah yang mengangkat kedudukan manusia di atas mahluk lainnya. Sehingga tugas manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang ada di bumi, yaitu untuk memelihara dan melestarikan alam semesta ini agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya. 
Manusia bukan hanya diberikan kekayaan di bumi dan di langit, akan tetapi juga diberikan kemampuan untuk menembus batas-batas bumi serta mengamati tanda-tanda kebesaran Allah.
Dalam Firman Allah disebutkan:
uŽ|³÷èyJ»tƒ Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ÈbÎ) öNçF÷èsÜtGó™$# br& (#rä‹àÿZs? ô`ÏB Í‘$sÜø%r& ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur (#rä‹àÿR$$sù 4 Ÿw šcrä‹àÿZs? žwÎ) 9`»sÜù=Ý¡Î0 ÇÌÌÈ  
Artinya:
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (Q.S. Ar-Rahmaan:33)
Mengambil perkataan dari Arnold Toynbee, bahwa peradaban manusia itu lahir, tumbuh dan berkembang mencapai puncak kejayaannya, kemudian ia runtuh dan hancur. Demikian ia berputar (siklus) seperti roda pedati. Oleh karena itu satu hal yang penting ialah bahwa ia tidak boleh kehilangan dirinya dalam kejayaan itu. Ia wajib ingat bahwa hidup itu hanya sementara, suatu peristiwa yang akan berlalu dan tujuan tertinggi hidupnya itu bergantung pada bagaimana ia menggunakan hidupnya, apakah untuk mentaati perintah Allah ataukah menentang terhadapnya.
Manusia selain memanfaatkan apa yang ada di bumi dan apa yang ada di langit, manusia juga harus menjaga, melestarikan dan bersyukur atas anugrah dan karunia-Nya. Manusia tidak diperkenankannya untuk berbuat kerusakan terhadap alam ciptaan Allah ini.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Al-Qur’an berusaha mengangkat derajat manusia pada kedudukan yang tinggi, dengan memberikan kemampuan kepadanya untuk melihat dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah. Orang yang berilmu pengetahuan dan yang memiliki akal yang mampu melihat hakitat alam semesta, kekuasaan yang hak, yang mengendalikan dan mengatur keseluruhannya.
Setelah manusia diciptakan, Allah menganugrahi manusia dengan pengetahuan dan pengertian unsur dari alam semesta agar dapat menggali dan memanfaatkan kekayaan yang ada di bumi dan ada di langit bagi kesejahteraan hidupnya. Kekayaan pengetahuan inilah yang mengangkat kedudukan manusia di atas mahluk lainnya. Sehingga tugas manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang ada di bumi, yaitu untuk memelihara dan melestarikan alam semesta ini agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya.
 
B.    Penutup
Demikian uraian yang telah penulis paparkan, melalui makalah ini penulis memohon maaf apabila dalam penulisan ini masih banyak kekurangan, maka  dengan ini penulis mohon kritik dan saran dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA


Alamendah. 2009. Manusia, Khalifah Penjaga Kelestarian Alam (Artikel). Posted on 25 Agustus 2009
Harahap, Adnan dkk.1997.  Islam dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy.
_______________, 2006. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: C.V Diponegoro.

Upaya Guru dalam Pembentukan Kepribadian Yang Berkarakter

Upaya Guru dalam Pembentukan Kepribadian Yang Berkarakter

Karakter merupakan sifat kejiwaan, akhlak, tabiat, watak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Kepribadian adalah mempunyai watak, mempunyai kepribadian. Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai-nilai dan keyakinan yang dikehendaki agama dan masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga seorang pendidik di katakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagi pendidik.
Sesuai dengan tujuan pendidikan pada UU Nomor 14 Tahun 2005, tentang Sistem Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab. Sebagai seorang pendidik karakter yang mempunyai amanah untuk membangun insan yang berkarakter kuat dan cerdas guru, guru harus memiliki karakter yang kuat.
Guru harus memiliki kepribadian yang khusus sebagai ciri khas, di antaranya akhlak yang mulia, budi pekerti yang baik dan kepribadian yang luhur. Seorang guru senantiasa menjadi sorotan masyarakat terutama para siswanya, tidak sedikit siswa yang mengagumi gurunya bukan sekedar karena kepintaran di bidang ilmunya, justru karena perilaku yang baik, bersikap amanah, ramah, adil dan jujur kepada murid-muridnya.
Adapun yang harus dilakukan seorang guru agar menjadi teladan yang baik adalah selalu mengadakan muhasabah pada diri sendiri, mengoreksi akan kekurangan-kekurangan diri dan berusaha untuk memperbaikinya.
Ada beberapa tips agar guru dapat memiliki karakter yang baik, di antaranya:
Kurangi kecintaan pada dunia
Kecintaan pada dunia akan membuat orang selalu iri, dengki terhadap keberuntungan orang lain, menimbulkan sifat serakah, curang, korup, dan beberapa prilaku buruk yang lain.
Tambahi kecintaan terhadap sesama manusia
Kecintaan kepada Allah akan menjadi tumpuan terhadap kecintaan kepada sesama manusia, ini dilakukan agar seorang guru akan lebih menerima sebagai profesinya.
Usahakan paksa diri
Paksa diri ini dimaksudkan adalah untuk memaksakan agar selalu berbuat baik dan memaksakan agar selalu berupaya menghindari prilaku buruk.
Inilah yang harus diupayakan agar guru mempunyai kepribadian yang berkarakter. Demikian diskusi dari kami, mudah-mudahan kita selalu berupaya agar menjadi orang yang selalu berusaha dalam memajukan pendidikan di negara kita.

PENDIDIKAN ISLAM PLURALIS MULTIKULTURALISME

PENDIDIKAN ISLAM PLURALIS MULTIKULTURALISME
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hingga saat ini, pendidikan agama di sekolah-sekolah maupun institusi pendidikan lainnya, dianggap masih cenderung dogmatis serta kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif sehingga melahirkan pemahaman agama yang tekstual dan eksklusif. Dalam konteks inilah maka pendidikan agama melalui upaya pendekatan pluralis-multikultural merupakan sebuah keniscayaan. Pendidikan agama islam berwawasan pluralis-multikultural harus dirancang dan dikembangkan secara integratif, komprehensif dan konseptual.
Dalam konteks pendidikan islam yang pluralis multikultural, seorang pendidik dituntut bersikap demokratis. Seorang pendidik sudah seharusnya menjelaskan bahwa inti dari ajaran agama islam adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, dan segala bentuk kekerasan sangat dilarang oleh agama. Dalam hal ini, setiap unit pendidikan diharapkan dapat menerapkan peraturan lembaga yang di dalamnya mencakup poin tentang larangan segala bentuk diskriminasi, sehingga semua komponen yang ada di unit pendidikan itu dapat selalu belajar untuk saling menghargai orang lain yang berbeda.

 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, kami dapat merumuskan masalah dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:
Apa pengertian dari Pluralisme?
Apa pengertian dari Multikulturalisme?
Bagaimana Tujuan, Prinsip Pengembangan dan Rancangan Pendekatan Pendidikan Islam Berwawasan Pluralis-Multikultural?


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Pluralisme
Pluralisme secara harafiah dari bahasa Latin: plus, pluris yang berarti "lebih". Secara filosofis, pluralisme adalah wejangan yang menekankan bahwa kenyataan terdiri atas kejamakan dan/atau kemajemukan individu-individu yang berdiri sendiri-sendiri, dan sebagai demikian, tidak boleh dimuarakan pada bentuk-bentuk penampakan dari satu kenyataan mutlak.
Romo Franz Magnis Suseno, dalam Dialog dan Diskusi Pluralism and Humanism in Religious Society, yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, di Jakarta, Selasa (19/7) memberikan pendapatnya: pluralisme diartikan sebagai kemampuan untuk hidup damai bersama satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain, dengan dasar nilai-nilai amat diperlukan untuk menghadang timbulnya kebencian yang sepertinya banyak terjadi belakangan ini. Ia menambahkan pluralisme bukanlah relativisme, atau memandang semua agama sama saja. Pluralisme adalah sikap tenang dan tidak terganggu dengan iman dan keberagamaan orang lain. Pluralisme itu bukan berarti memandang semua agama sama. Sebagai sebuah sikap yang terbuka terhadap kemajemukan, paham pluralisme juga tidak mengenal sikap memaksakan ajaran agama yang satu ke pemeluk agama yang lain.

Pengertian Multikulturalisme
Secara etimologis, istilah “multikulturalisme” marak digunakan pada tahun 1950-an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah “multiculturalism” merupakan deviasi dari kata “multicultural.” Kamus ini menyitir kalimat dari surat kabar Kanada, Montreal Times yang menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat “multicultural” dan “multi-lingual.”
Multikulturalisme berasal dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya.
Parsudi Suparlan (2001) mengatakan multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengagungkan perbedaaan kultur atau sebuah keyakinan yang mengakui pluralisme kultur sebagai corak kehidupan masyarakat.
Konsep tentang mutikulturalisme, sebagaimana konsep ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan yang tidak bebas nilai (value free), tidak luput dari pengayaan maupun penyesuaian ketika dikaji untuk diterapkan. Demikian pula ketika konsep ini masuk ke Indonesia, yang dikenal dengan sosok keberagamannya. Muncul konsep multikulturalisme yang dikaitkan dengan agama, yakni ´multikulturalisme religius´ yang menekankan tidak terpisahnya agama dari negara, tidak mentolerir adanya paham, budaya, dan orang-orang yang atheis (Harahap, 2008). Dalam konteks ini, multukulturalisme dipandangnya sebagai pengayaan terhadap konsep kerukunan umat beragama yang dikembangkan secara nasional.

Tujuan, Prinsip Pengembangan dan Rancangan Pendekatan Pendidikan Islam Berwawasan Pluralis-Multikultural
1.    Tujuan Pendidikan Pluralis-Multikultural
Akhir-akhir ini, sering terjadi kritik terhadap pendidikan agama di antaranya bahwa pendidikan agama tidak berdampak pada perubahan prilaku peserta didik setelah mereka mengalami proses pendidikan agama tersebut. Meskipun di beberapa unit pendidikan materi agama diberikan dengan porsi yang cukup besar, namun tetap tidak mampu mencegah peserta didik berprilaku buruk seperti pergaulan bebas, tawuran, berpikiran sempit (dogmatis), kurangnya toleransi dan penghargaan terhadap orang lain. Maka tidak heran jika pada akhirnya banyak orang menjadi apatis dengan pendidikan agama, dan mempertanyakan sejauh mana efektifitas mata pelajaran tersebut bagi peningkatan kesadaran peserta didik baik secara kultural maupun agama.
Pembelajaran dalam koridor pendidikan agama saat ini masih cenderung dogmatis serta kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif sehingga melahirkan pemahaman agama yang cenderung tekstual dan eksklusif. Di era multikulturalisme ini, pendidikan agama merupakan pilar penyangga bagi kerukunan umat beragama, sehingga diharapkan ia tidak saja menjadi fondasi integritas nasional yang kokoh tetapi juga menjadi fondasi pengayom keberagaman yang sejati.
Oleh karenanya, dengan memanfaatkan keragaman agama-agama yang ada serta melalui bentuk pembelajaran agama yang dialogis, pendidikan agama berwawasan pluralis-multikultural diharapkan memiliki karakteristik khas yang meliputi:
penanaman kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan agama yang ada
penanaman semangat relasi antar manusia dengan spirit kesetaraan dan kesederajatan, saling percaya, saling memahami, menghargai perbedaan dan keunikan agama-agama.
menerima perbedaan-perbedaan dengan pikiran terbuka demi mengatasi konflik untuk terciptanya perdamaian dan kedamaian.
Berangkat dari pandangan di atas, maka pendidikan pluralis-multikultural setidaknya memiliki 2 tujuan besar, yakni tujuan awal dan tujuan akhir, yaitu:
Tujuan awal pendidikan pluralis-multikultural adalah membangun wacana pendidikan multikultural dan penanaman nilai-nilai pluralisme, humanisme dan demokrasi terhadap para pelaku pendidikan.
Sedangkan tujuan akhir dari pendidikan multikultural adalah agar peserta didik mampu memahami dan menguasai setiap materi pembelajaran serta memiliki karakter yang kuat untuk selalu bersikap demokratis, pluralis dan demokratis.
Multikulturalisme mengandung pengertian kemajemukan budaya, sementara Pluralisme lebih kepada kemajemukan agama. Dalam konteks ini, istilah Pendidikan Islam Pluralis-Multikultural berarti sikap menerima kemajemukan ekspresi budaya manusia dalam memahami pesan utama agama, terlepas dari rincian anutannya.

2.    Prinsip Pengembangan Pendidikan Pluralis-Multikultural
Pendidikan pluralis multikultural dapat dimulai dari aspek yang paling kecil, yaitu diri sendiri. Prinsip ini menekankan pendidikan dimulai dari pengenalan terhadap jati diri sendiri, bukan jati diri yang lain. Keterlibatan seseorang dalam pendidikan multikultural akan terjadi apabila ia melihat ada relevansinya dengan kehidupannya sendiri. Relevansi masalah orang lain terhadap kehidupannya sendiri akan membuat seseorang berminat untuk terlibat dalam pendidikan multikultural.
Pendidikan pluralis multikultural hendaknya dikembangkan agar pembelajaran tidak mengembangkan sikap etnosentris. Dengan mengembangkan sikap yang non-etnosentris, kebencian dan konflik akan dapat dihindarkan secara maksimal. Itu berarti bahwa pendidikan ini bertujuan untuk membangun kesadaran yang tidak bersifat mengunggulkan diri dan kelompoknya sebagai yang paling unggul dengan mengalahkan yang lain.
Pendidikan pluralis-multikultural seharusnya dikembangkan secara integratif, komprehensif dan konseptual. Pendekatan semacam ini mengisyaratkan bahwa agar kurikulum pendidikan pluralis-multikultural memasukkan sebuah kurikulum yang bersifat total, terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran seperti bahasa, ilmu pengetahuan sosial, sains dan teknologi, pendidikan jasmani, kesenian atau pendidikan moral.
Pendidikan pluralis-multikultural harus menghasilkan sebuah perubahan, bukan saja pada materi kurikulum, tetapi pada praktek pembelajaran dan struktur sosial dari sebuah kelas. Untuk mencapai suasana pembelajaran demikian, maka pembelajaran harus berorientasi pada proses, misalnya bermain peran, simulasi, diskusi, pembelajaran kooperatif, pembelajaran partisipatoris, dan sebagainya.
Pendidikan pluralis-multikultural harus mencakup realitas sosial dan kesejarahan dari agama dan etnis yang ada. Kontekstualisasi semacam ini memiliki makna penting untuk menumbuhkan rasa hormat, toleran dan menghargai keragaman yang ada.
Dalam konteks pendidikan agama berwawasan pluraslis multikultural, seorang pendidik (guru) diharapkan bersikap demokratis. Artinya, segala prilakunya tidak diskriminatif terhadap peserta didik yang berbeda agama. Selain itu, ia juga diharapkan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu atau kejadian-kejadian yang terkait dengan masalah agama. Oleh karenanya, seorang pendidik sudah seharusnya menjelaskan bahwa inti dari ajaran agama adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, dan segala bentuk kekerasan sangat dilarang oleh agama. Dalam hal ini, setiap unit pendidikan (sekolah) juga diharapkan dapat menerapkan peraturan lembaga yang di dalamnya mencakup poin tentang larangan segala bentuk diskriminasi sehingga semua anggota di unit pendidikan (sekolah) itu dapat selalu belajar untuk saling menghargai orang lain yang berbeda.

3.    Rancangan Pendekatan (Metodologi) Pendidikan Agama Berwawasan Pluralis-Multikultural
Pengembangan pendidikan agama berwawasan pluralis multikultural dapat diterapkan pada beberapa aspek, yakni: orientasi muatan (kurikulum), orientasi siswa, dan orientasi reformasi unit pendidikan (persekolahan).
Pada pendidikan yang berorientasi pada muatan, J.A. Banks (2009) menawarkan kerangka kurikulum dengan beberapa pendekatan, yaitu:
a.    Pendekatan kontributif, bertujuan untuk memasukkan materi-materi tentang keragaman kelompok keagamaan (termasuk kelompok etnik dan kultur masyarakat).
b.    Pendekatan aditif, yaitu melakukan penambahan muatan-muatan, konsep-konsep baru ke dalam kurikulum tanpa mengubah struktur dasarnya. Pendidikan agama memanfaatkan muatan-muatan khas multikultural sebagai pemerkaya bahan ajar, konsep-konsep tentang harmoni kehidupan bersama antar umat beragama, saling toleransi, ko-eksistensi, pro-eksistensi, kerjasama, saling menghargai dan memahami.
Untuk merancang strategi hubungan multikultural dalam pendidikan (termasuk pendidikan agama) setidaknya dapat digolongkan kepada 2 (dua) pengalaman, yakni: pengalaman pribadi dan pengalaman pengajaran yang dilakukan oleh guru (pendidik).
Pengalaman pribadi dapat dikondisikan dengan menciptakan suasana seperti:
Seluruh peserta didik baik yang minoritas maupun mayoritas memiliki status dan tugas yang sama.
Seluruh peserta didik bergaul, berhubungan, berkembang dan berkelanjutan bersama.
Seluruh peserta didik berhubungan dengan fasilitas, gaya belajar guru dan norma kelas yang sama.
Adapun dalam bentuk pengalaman pengajaran adalah sebagai berikut:
Guru harus sadar akan keragaman siswa
Bahan kurikulum dan pengajaran seharusnya merefleksikan keragaman.
Bahan kurikulum dituliskan dalam bahasa-bahasa daerah/etnik yang berbeda.
Selain itu, di dalam pendidikan agama berwawasan pluralis-multikultural perlu juga upaya pendekatan lain seperti: pendekatan estetik dan pendekatan berperspektif gender.
Pendekatan estetik di dalam pendidikan agama akan menjadikan peserta didik memiliki sifat-sifat yang santun, damai, ramah, dan mencintai keindahan. Dalam pendekatan ini, pendidikan agama tidak didekati secara doktrinal yang cenderung menekankan adanya “otoritas-otoritas” kebenaran agama, tetapi lebih apresiatif terhadap gejala-gejala yang terjadi di masyarakat serta dilihat sebagai bagian dari dinamika hidup yang bernilai estetis. Sedangkan pendekatan berperspektif gender adalah pendekatan yang tidak membedakan peserta didik dari aspek jenis kelamin. Dengan demikian pendekatan ini sangat manusiawi.
Adapun metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan agama berwawasan pluralis-multikultural cukup beragam. Metode yang paling baik dalam sebuah pembelajaran idealnya bervariatif, baik antara teknik yang berpusat pada guru maupun teknik pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah dengan menggunakan “model komunikatif” dengan menjadikan perbedaan sebagai titik tekan. Metode ini sangat efektif apalagi dalam proses belajar mengajar yang sifatnya kajian perbandingan agama dan budaya. Sebab, dengan komunikasi ini memungkinkan setiap komunitas yang memiliki latar belakang berbeda dapat mengemukakan pendapatnya secara argumentatif.
Selain metode itu, perlu juga diterapkan metode pendukung seperti: metode belajar aktif (collaborative learning), metode belajar melalui penemuan dan pengalaman sendiri (self discovery learning), ceramah (socratic teaching) yakni ceramah atau ekspose yang diawali dengan pertanyaan lalu diberikan jawaban yang terus mengalir sehingga terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Di akhir tulisan ini penulis perlu menekankan bahwa tujuan dari dilakukannya upaya pendidikan agama yang berawawasan pluralis-multikultural adalah terciptanya pemahaman agama bagi peserta didik yang pluralis, humanis, inklusif, serta penuh toleransi dan saling menghargai antar pemeluk agama lain. Sehingga, dari upaya tersebut pada akhirnya akan dapat terwujud keharmonisan dan kedamaian di dalam kehidupan masyarakat, sesuai dengan cita-cita dan tujuan hakiki dari ajaran universal agama. Hal ini pada gilirannya sekaligus akan sedikit-demi sedikit mengikis pandangan-pandangan yang negatif terhadap eksistensi agama yang selama ini dianggap sebagai “mesin pembunuh”

B.    Penutup
Demikian uraian yang telah kami paparkan, melalui makalah ini tentunya kami masih banyak kekurangan, khususnya dalam penulisan maupun penyusunannya, kami mohon kritik dan saran dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

http://maulanusantara.wordpress.com/2010/01/09/pluralisme-dan-multikultural
http://semuaguru.blogspot.com/2010/07/merancang-pendidikan-agama-islam.html
http://www.grasindo.co.id/detail.asp?ID=50104457
http://www.scribd.com/doc/38741327/Plural-is-Me-Dan-Multikulturalisme
Muhaemin el Ma’hady, “Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural; Sebuah Kajian Awal” dalam artikel www.pendidikan.net

KETAERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI MENGAJAR

KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI
 Rasional
Bosan merupakan masalah yang selalu terjadi dimana-mana dan orang selalu berusaha menghilangkannya, bosan terjadi jika seseorang selalu melihat, merasakan, mengalami peristiwa yang sama secara berulang-ulang, bertemu dengan hal-hal yang “itu-itu” juga dan tidak ada sesuatu yang diharapkan.

Variasi dalam PBM dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran yang dapat dikelompokkan dalam variasi :
Gaya mengajar
Penggunaan alat dan media pengajaran
Pola interaksi dalam kelas.

Pinsip Penggunaan
Hendaknya digunakan dengan maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak dicapai, penggunaan variasi yang wajar dan beragam sangat dianjurkan,
Variasi hendaknya digunakan dengan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak merusak perhatian dan mengganggu pelajaran.
Komponen mengadakan variasi tertentu sangat memerlukan susunan dan perencanaan yang baik.

Komponen Keterampilan
A.    Variasi Dalam Mengajar Guru
Penggunaan Variasi Suara
Perubahan suara dari kelas menjadi lemah, gembira menjadi sedih atau memberikan penekanan pada kata-kata tertentu.
Pemusatan Perhatian
Pemusatan perhatian pada hal yang penting pada hal yang penting dapat dilakukan guru dengan perkataan.
“ Perhatikan baik-baik “dengar baik-baik ”nah, ini penting sekali, dsb.

Biasanya cara pemusatan ini diikuti dengan isyarat menunjukkan kepapan tulis, dll.

Kesenyapan
Kesenyapan yang tiba-tiba yang disengaja guru selagi mengajar merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian karena siswa ingin tahu apa yang terjadi.
Dalam mengajukan pertanyaan guru menggunakan waktu tunggu atau kesenyapan memberikan kesempatan siswa berpikir.
Mengadakan Kontak Pandang
Jika berinteraksi dengan murid sebaiknya pandangan menjelajahi seisi kelas dan melihat murid-murid untuk menunjukan hubungan yang intim dengan mereka.
Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi seperti : membesarkan mata tnda tercegang.
Gerakan Badan Dan Mimik
Ekpresi wajah guru, gerakan kepala, gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam komunikasi.
Ekpresi wajah misalnya tersenyum cemberut, mengerutkan dahi berjalan mendekati berdiri siap membantu dan lain-lain.
Penggantian Posisi Guru Dalam Kelas
Dimaksudkan berdiri di tengah, dapat didepan, belakang, bagian kiri, atau kanan kelas.yang perlu diingat hal ini dilakukan dengan maksud tertentu dan dilakukan secara wajar.

B.    Variasi Dalam Penggunaan Media Da Bahan Pengajaran
Media dan alat pengajaran, jika ditijau dari indra yang digunakan dapat digolongkan menjadi:
1.    Yang dapat didengar
2.    Yang dapat dilihat dan dirasa
3.    Di bau (dicium) atau manipulasi

Pertukaran penggunaan dari jenis yang satu ke jenis yang lain misalnya dari media gambar ke tulisan di papan tulis mengharuskan anak menyesuaikan alat indranya sehingga lebih dapat mempertinggi perhatianya. Jenis variasi ini dapat digolongkan : 

Variasi alat / bahan yang dapat didengar
Seperti : Gerafik, gambar dipapan tulis, film, tv, peta poster, dll.  
Variasi alat / bahan yang dapat didengar
Variasi suara guru, dengan selingan suara rekaman, radio.
Variasi  alat / bahan yang dapat diraba.
Seperti : Patung, alat mainan, bintang hidup yang memungkinkan untuk  dapat dimanipulasi / diraba.

C.    Variasi Pola Interaksi Dan Kegiatan Siswa
Dengan mengubah pola interaksi ini guru dengan sendirinya mengubah kewgiatan belajar murid, tingkat dominasi guru, keterlibatan murid dll.
Seperti :
Siswa bekerja dalam kelompok kecil,
Tukar pendapat melalui diskusi,  
Demonstrasi tanpa campur tangan guru.

PENDIDIKAN ISLAM DI SINGAPURA

PENDIDIKAN ISLAM DI SINGAPURA
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Singapura merupakan negara kecil yang berada di ujung Semenanjung Tanah Melayu. Dari awal mulanya, Singapura adalah sebuah kota imigran dari negara-negara lain, baik China, Malaysia, India dan Indonesia. Dari banyaknya etnis sehingga muncul suatu kepercayaan yang berbeda. Awal mulanya penduduk Singapura beragama yang tak jauh dari negara induknya dulu yaitu Malaysia, adapun agama tersebut adalah hindu budha.
Proses perkembangan pendidikan islam di Singapura tidak lepas dari awal mula masuknya islam di Singapura. Ini akan menjadi suatu pokok bahasan yang sangat menarik tentang bagaimana peran serta pendidikan islam yang berada di negeri Melayu tersebut. 

Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, kami dapat merumuskan masalah dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:
Bagaimana keadaan geografis negara Singapura?
Bagaimana sejarah masuknya islam di Singapura?
Bagaimana proses perkembangan islam di Singapura?
Apa Problematika Pendidikan Melayu Muslim di Singapura?
Apa peran serta Madrasah, Masjid, dan LSM di Singapura?



BAB II
PEMBAHASAN

Sekilas Tentang Singapura
Singapura adalah sebuah pulau yang terletak di ujung Semenanjung Tanah Melayu, yang awalnya bernama "Pulau Ujung" (Pu-Lo-Chung), "Salahit" Selat, dan berikutnya "Temasek", "Tumasik" (Jawa), "Tam-ma-sik" (China). Istilah Singapura sediri muncul pada tahun 1299 ketika Pangeran Sang Nila Utama singgah di pulau ini dan menemukan seekor binatang seperti Singa, sehingga pulau itu disebut Lion City (Kota Singa). Versi lain mengatakan bahwa pada abad ke-14 pulau ini menjadi tempat singgahnya para pedagang Majapahit sehingga Singapura berarti “kota” (Pura) “singgah” (Singgah).
Penduduk Negara pulau ini adalah multi etnis. Dari jumlah penduduk 4.131.200 jiwa, etnis China sebanyak 79.7%, Melayu 13.9%, India 7.9%, dan etnis lain sekitar 1.5%. dengan demikian etnis China adalah etnis mayoritas, disusul Melayu dan India. Etnis Melayu sebagian besar berasal dari imigran Sulawesi, Bawean, dan lain-lain.
Singapura menganut sistem sekuler, di mana pemerintah menerapkan netralitas terhadap semua agama yang ada. Berdasarkan hasil sensus tahun 2000, diketahui bahwa penduduk Singapura yang berumur di atas 15 tahun menganut beberapa agama, yaitu Budha 42.5%. Islam 14.9%, Kristen 14.6%, Tao 8.5%, Hindu 4.0% dan Agama lain (Yahudi, Zoroaster,dll 0.6%). Kecuali itu, masih ada sekitar 14.8% yang tidak memiliki atau menganut agama tertentu.

Sejarah Masuknya Islam ke Singapura
Islam masuk ke Singapura tidak dapat dipisahkan dari proses masuknya Islam ke Asia Tenggara secara umum, karena secara geografis Singapura hanyalah salah satu pulau kecil yang terdapat di tanah Semenanjung Melayu.
Pada fase awal, Islam yang disuguhkan kepada masyarakat Asia Tenggara lebih kental dengan nuansa tasawuf. Karena itu, penyebaran Islam di Singapura juga tidak terlepas dari corak tasawuf ini. Buktinya pengajaran tasawuf ternyata sangat diminati oleh ulama-ulama tempatan dan raja-raja Melayu. Kumpulan tarekat sufi terbesar di Singapura yang masih ada sampai sekarang ialah Tariqah ‘Alawiyyah yang terdapat di Masjid Ba’lawi. Tarekat ini dipimpin oleh Syed Hasan bin Muhammad bin Salim al-Attas.
Selain tarekat itu juga dijumpai tarekat  Al-Qadiriyyah Wa al Naqshabandiyyah yang berpusat di Geylang Road yang dikelola oleh organisasi PERPTAPIS (Persatuan Taman Pengajian Islam). Tarekat ini berasal dari Suryalaya, Tasik Malaya, Jawa Barat. Gurunya bernama K.H Ahmad Tajul ‘Ariffin dan Haji Ali bin Haji Muhammad. Tarekat lainnya yang diamalkan di Republik Singapura ialah Al-Shaziliyyah, Al-Idrisiyyah, Al-Darqawiyyah dan Al-Rifa’iyyah.
Para ulama asal Yaman (Hadramaut) yang bernama Syed Abu Bakar Taha Alsaggof dalam mengembangkan Islam di Singapura sangat besar. Dialah dai dan penyebar Islam pertama era modern di negeri pulau itu dan membuka lembaga pendidikan Islam, yakni Madrasah Al-Juneid yang masih eksis sampai saat ini.

Perkembangan Islam di Singapura
Wajah Islam di Singapura tidak jauh beda dari wajah muslim di negeri jirannya, Malaysia. Banyak kesamaan, baik dalam praktek ibadah maupun dalam kultur kehidupan sehari-hari. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh sisa warisan Malaysia, ketika Negara kecil itu resmi pisah dari induknya, Malaysia, pada tahun 1965.
Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat Singapura selalu berupaya untuk memajukan diri mereka seiring dengan kemajuan negaranya. Pemodernan pemikiran umat Islam Singapura berpengaruh pula terhadap berkurangnya mitos dan kepercayaan kepada Khufarat, sehingga semakin mulai menuju kepada cara beragama yang lebih rasional. Berdasarkan keterangan sebelumnya, Singapura modern sering dihubungkan dengan masuknya Sir Stamford Raffles ke pulau itu pada tahun 1819. Waktu itu Singapura hanya didiami oleh lebih kurang 120 orang Melayu (termasuk dari keturunan Bugis, Jawa, dan lainnya) dan 30 orang Cina.
Tahun 1901, jumlah orang Melayu itu berkembang menjadi 23.060 orang, yang terdiri dari 12.335 orang penduduk asli kepulauan Melayu, hampir 1000 orang keturunan Arab, dan 600 orang keturunan Jawa. Jumlah penduduk Singapura secara keseluruhan pada waktu itu sekitar 228.555 orang, dengan 72% etnis Cina.
Orang Melayu  awalnya tinggal di kawasan Kampung Gelam yaitu suatu kawasan di pesisir sungai. Di sekitar Kampung Gelam tersebut mereka hidup secara bersamaan dengan orang-orang keturunan Bugis, Boyan, Jawa dan Arab.
Dengan demikian, secara umum muslim Singapura terbagi kepada dua kelompok besar, yaitu etnis Melayu sekitar 90%. Sisanya adalah etnis non-Melayu (India, Timur Tengah, Indonesia, dan lain-lain) sekitar 10%.
Sementara itu, pada tahun 1947 penduduknya bertambah menjadi 940.824 (115.735 Melayu dan 730.133 Cina). Pada tahun 1957 menunjukkan bahwa penduduk Singapura telah meningkat kepada 1.445.929 orang (1.090.596 Cina, 197.059 Melayu/Indonesia, 124.084 India/Pakistan dan 34.190 lainnya). Di akhir tahun 1976, jumlah penduduk Singapura adalah 2.294.900 orang (17%  orang Islam dan 15%  dari itu adalah orang Melayu).
Menurut istilah Sharon Siddique, muslim Singapura dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Migrant yang berasal dari dalam dan luar wilayah. Migrant dari dalam wilayah berasal dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Riau dan Bawean. Kelompok ini selalu diidentikkan ke dalam etnis Melayu. Adapun kelompok Migrant dari luar wilayah dibagi menjadi dua kelompok penting, yaitu muslim India yang berasal dari subkontinen India (Pantai Timur dan Pantai Selatan India) dan keturunan Arab, khususnya Hadramaut. Dengan demikian, Sharon berpandangan bahwa muslim Singapura adalah para migran.
Migran yang berasal dari luar wilayah secara umum berasal dari golongan muslim yang kaya dan terdidik. Kelompok ini pula akhirnya membentuk kelompok elit sosial dan ekonomi Singapura. Mereka mempelopori perkembangan Singapura sebagai pusat pendidikan dan penerbitan muslim. Di samping itu, mereka juga sebagai penyumbang dana terbesar untuk pembangunan mesjid, lembaga pendidikan dan organisasi social Islam lainnya. Di antara mereka itu dikenal dengan keluarga al-Segat, al-Kaff, dan al-Juneid.
Secara akademis belum ada pendapat yang pasti tentang asal usul migrant dalam wilayah. Dari beberapa kajian ada yang berpendapat mereka itu berasal dari Riau, Pahang, Terengganu, Kelantan.

Problematika Pendidikan Melayu Muslim di Singapura
Pendidikan islam di Singapura di sampaikan para ulama yang berasal dari negeri lain di Asia Tenggara atau dari Negara Asia Barat dan dari benua kecil India. Para ulama tersebut diantaranya ialah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Tuanku Mudo Wali Aceh, Syaikh Ahmad Aminuddin Luis Bangkahulu, Syaikh Syed Usman bin Yahya bin Akil (Mufti Betawi), Syaikh Habib Ali Habsyi (Kwitang Jakarta), Syaikh Anwar Seribandung (Palembang), Syaikh Mustafa Husain (Purba Baru Tapanuli), Syaukh Muhammad Jamil Jaho (Padang Panjang) dll.
Seperti di Negara lain, pendidikan agama Islam di Singapura dijalankan mengikuti tradisi dan sistem persekolahan modern. Sistem tradisional, mengikuti pola pendidikan Islam berdasarkan sistem persekolahan pondok Malaysia dan Patani atau pesantren di Indonesia.
Adapun sistem modern adalah melalui sistem sekolah yang merujuk ke Mesir dan Barat, yang dikenal dengan madrasah, sekolah Arab atau sekolah agama.
Ada empat madrasah terbesar di Singapura sampai saat ini, yaitu :
a.    Madrasah al-Junied al-Islamiyyah, didirikan pada bulan muharam 1346H (1927M) oleh pangeran Al-Sayyid Umar bin Ali al-Junied dari Palembang. Mata pelajaran yang diajarkan dimadrasah ini adalah ilmu Hisab, Tarikh, Ilmu Alam, Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Sains, Sastra Melayu dan mata pelajaran lainnya.
b.    Madrasah al-Ma’arif, didirikan pada tahun 1940-an. Pengasuh madrasah ini adalah lulusan universitas al-Azhar, Mesir dan dari kawasan Asia Barat.
c.    Madrasah Wak Tanjung Al-Islamiyyah, didirikan pada tahun 1955
d.    Madrasah Al-Sago (atau Al-Saqaf), didirikan pada tahun 1912 diatas tanah yang diwaqafkan oleh Sed Muhammad bin Sed Al-Saqof.
Pendidikan merupakan standarisasi penilaian secara tidak langsung yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengkategorisasikan maju tidaknya sebuah Negara. Singapura dilihat dari faktor pendidikan tekanan bagi kaum muslim dan Melayu di Singapura sungguh-sungguh nyata. Ini terlihat dari meningkatnya pendidikan dan kemajuan ekonomi yang telah dicapai orang-orang Singapura lainnya khususnya orang-orang China yang mayoritas di negara itu.
Tekanan tersebut nampak nyata dalam tulisan-tulisan dan studi-studi yang dilakukan komunitas Muslim-Melayu sepanjang tahun 1980-an. Dilatarbelakangi sensus penduduk 1980 yang menyatakan bahwa orang-orang Melayu Singapura tertinggal di belakang etnis lain, dalam status sosial ekonomi, diskursus publik kembali diaktifkan organisasi-organisasi muslim seperti Majlis Pusat untuk menggerakkan pesan bahwa jalan keluar bagi kaum muslim adalah meningkatkan pendidikan dan kompetensi profesional. Sejalan dengan seruan itu adalah himbauan dari pemimpin-pemimpin muslim dan aktivitas-aktivitas yang berorientasi islam agar menanggulangi status sosial ekonomi mereka dalam kerangka dan prinsip-prinsip islam.
Sejauh menyangkut masalah pendidikan walau sejak tahun 1970-an pesan pentingnya pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) sebagai katalis bagi kehidupan yang lebih layak bagi etnis Melayu telah disuarakan oleh organisasi-organisasi Melayu, kembali di intensifkan pada tahun 1981. Pada tahun itu pula didirikan Majelis Pendidikan Anak-Anak Muslim (MENDAKI) yang mengarahkan kegiatannya pada masalah pendidikan bagi anak-anak muslim. Pemimpin melayu muslim sangat berhasil dalam menarik dukungan yang besar, bukan hanya dari perhimpunan-perhimpunan atau kelompok-kelompok Melayu-muslim, tapi juga dari pemerintah. Status majlis itu kemudian meningkat menjadi yayasan tahun 1982 setelah majelis sukses melaksanakan ‘Kongres tentang Pendidikan Anak-Anak Muslim’, suatu kesempatan di mana Perdana Menteri menyampaikan suatu key note addres.
Selain itu pembentukan MENDAKI juga mempercepat kehadiran dan publikasi bahan-bahan dan karya-karya pendidikan bagi minoritas di Singapura. Karya tersebut disajikan dalam seminar dan konferenai-konferensi dan artikel-artikel yang dipublikasikan oleh MENDAKI dan lembaga-lembaga muslim lainnya seperti MUIS dan JAMIYYAH. MENDAKI misalnya, menerbitkan a collection of mendake papers (1982), suatu kompilasi dari sekitar sepulus proyek yang mencakup bermacam-macam masalah yang berkaitan dengan pendidikan bagi kaum muslim, dan MUIS menerbitkan jurnal yang pertama kali tentang masalah-masalah kaum muslim di Singapura, Fajar Islam tahun 1988 yang bertujuan untuk memahami perkembangan sosial ekonomi dan politik yang mempengaruhi kaum muslim Singapura dan menelaahnya secara cermat, obyektif dan analitik.
Mencermati masalah keterpurukan pendidikan minoritas muslim (Melayu) dari etnis Cina (non islam lain) di Singapura, terlihat bahwa etnis Cina cenderung memiliki prestasi pendidikan, dimana dengan terdapatnya halangan dan rintangan dalam pencapaian stabilitas sosio ekonomi seseorang individual melalui pendidikan Singapura periode 1959-1980, dimana kondisi ekonomi etnis China memang sudah mapan sebelum perang, akan diwarisi anak-anak mereka, sehingga pendidikan mereka juga cenderung lebih tinggi dan lebih mapan, ditambah lagi basis bahasa inggris yang mereka kuasai.
Hal semacam ini, justru terdapat bagi kebanyakan etnis melayu (muslim), karena pada periode 1960-1970 an, 60% perhasilan perkapital penduduk melayu tergolong ekonomi lemah (rendah), sementara China hanya 40% terkategorikan penduduk miskin.
Kondisi dan fakta ini, tentunya tercermin pula dalam penyaluran pendidikan di antara anak-anak muslim dengan etnis China dalam rangka memasuki sekolah menengah. Pada tahun 1983 60% pelajar-pelajar melayu disalurkan kealiran sekolah rendah (biasa), sedangkan etnis cina sebanyak 40%.
Selain jurang ekonomi yang mempengaruhi semua penduduk Singapura terdapat faktor lain yang unik kepada orang melayu dan menyababkan merekan lebih rugi dari pada orang cina. tahun 1965, kurang lebih 50% pelajar melayu mendaftarkan diri dalam program pendidikan yang diajar dalam bahasa melayu.
Sungguhpun pendidikan inggris cepat sekali menjadi popular setelah kemerdekaan singapura dari Malaysia pada 1965, para pelajar yang mulanya berbasis melayu, terpaksa mengundurkan diri. Sedangkan para pelajar melayu yang layak dan cukup kredibel dalam memasuki pendidikan menengah dipindahkan kealiran inggris dimana merekan tidak mempunyai persediaan dan kesiapan dari segi bahasa. Bagi sebagian kecil pelajaran Melayu yang layak ke Universitas banyak yang bingung dalam mengambil atau memperdalam ilmu mereka melalui kursus-kursus professional dan sains yang semuanya diajar dalam bahasa inggis. Mereka sama sekali tidak diperkenangkan untuk mengambil kursus-kursus itu, sehingga  ketika mereka telah tamat dari Universitas dan ingin berkerja dengan melamarkan Ijazah yang mereka peroleh, sering kali peluang bagi para siswa aliran Melayu mendapat perlakuan yang kurang adil. Hal ini sebenarnya juga dialami oleh etnis China, mereka juga diperlakukan sebagaimana etnis Melayu, akan tetapi keunggulan China dari Melayu adalah mereka memiliki alternalif yang dapat menjembatani anak-anak mereka untuk bekerja di sektor-sektor ekonomi yang menggunakan bahasa China.

Madrasah, Masjid, dan LSM 
 Lembaga pendidikan Islam (madrasah) dikelola secara modern dan profesional, dengan kelengkapan perangkat keras dan lunak. Dari seluruh madrasah Islam (sebanyak enam buah, seluruhnya di bawah naungan MUIS), sistem pendidikan diterapkan dengan memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Keenam madrasah itu adalah madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif Al-Islamiah, madrasah Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah, madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah, dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah.
Waktu penyelenggaraan belajar mengajar dimulai dari pukul 08.00 hingga 14.00. Lama waktu ini juga berlaku di sekolah-sekolah umum dan non-madrasah. Agar tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi, maka di setiap madrasah dibangun laboratorium komputer dan internet, serta sistem pendukung pendidikan audio converence. Selain dilengkapi fasilitas internet, setiap madrasah juga mempunyai server tersendiri bagi pengembangan pendidikan modern. "Murid dibiasakan dengan teknologi, terutama teknologi internet. Setiap hari, mereka diberi waktu dua jam untuk aplikasi dan pemberdayaan internet," jelas Mokson Mahori, Lc, guru di madrasah Al Junied Al Islamiyah. Sayangnya, pendidikan Islam baru ada dalam institusi TK hingga madrasah Aliyah (SMU). Untuk perguruan tingginya hingga kini belum ada.
   Manajemen yang sama juga diterapkan dalam pengelolaan masjid. Tidak seperti yang dipahami selama ini, bahwa masjid hanya sebatas tempat ibadah mahdhoh an sich (shalat lima waktu dan shalat Jumat). Tetapi, masjid di negeri sekuler ini, benar-benar berfungsi sebagaimana zaman Rasulullah, sebagai pusat kegiatan Islam.
   Saat ini di Singapura terdapat 70 masjid. Selain tempatnya yang sangat bersih dan indah, juga di ruas kanan dan kiri di setiap masjid terdapat ruangan-ruangan kelas untuk belajar agama dan kursus keterampilan. Berbagai disiplin ilmu agama diajarkan setiap siang dan sore hari. Kegiatan ceramah rohani usai juga diajarkan usai shalat shubuh atau maghrib.
   Aktivitas lainnya, diskusi berbagai masalah kontemporer dan keislaman. Diskusi ini biasanya diadakan oleh organisasi remaja di setiap masjid. Dewan pengurus setiap masjid juga menerbitkan media (majalah dan buletin) sebagai media dakwah dan ukhuwah sesama muslim. Berbeda dengan di negara lainnya, para pengurus masjid digaji khusus, dan memiliki ruangan pengurus eksekutif laiknya perkantoran modern.
   Keberadaan lembaga swadaya masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah pentingnya dalam upaya menjadikan muslim dan komunitas Islam negeri itu potret yang maju dan progresif. Berbagai LSM Islam yang ada terbukti berperan penting dalam agenda-agenda riil masyarakat muslim.
  Saat ini, tidak kurang dari sepuluh LSM, di antaranya adalah: Association of Muslim Professionals (AMP), Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS), Muslim Converts Association (Darul Arqam), Muhammadiyah, Muslim Missionary Soceity Singapore (Jamiyah), Council for the Development of Singapore Muslim Community (MENDAKI), National University Singapore (NUS) Muslim Society, Perdaus (Persatuan dai dan ulama Singapura), Singapore Religious Teachers Association (Pergas), Mercy Relief (Center for Humanitarian), International Assembly of Islamic Studies (IMPIAN), dan Lembaga Pendidikan Alquran Singapura (LPQS).
   Seluruh lembaga dan sistem manajemen profesional ini ditujukan bukan saja pada terbentuknya kualitas muslim dan komunitas Islam yang maju, moderat dan progresif, tetapi juga potret yang mampu berkompetisi dan meningkatkan citra Islam di tengah pemandangan global yang kurang baik saat ini. Model demikian inilah yang kini terus diperjuangkan agar Islam yang rahmat menjelma dalam kehidupan masyarakat Singapura.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Singapura adalah sebuah pulau yang terletak di ujung Semenanjung Tanah Melayu, penduduk negara pulau ini adalah multi etnis. Singapura menganut sistem sekuler, di mana pemerintah menerapkan netralitas terhadap semua agama yang ada.
Islam masuk ke Singapura lebih kental dengan nuansa tasawuf. Buktinya pengajaran tasawuf ternyata sangat diminati oleh ulama-ulama tempatan dan raja-raja Melayu. Selain tarekat itu juga dijumpai tarekat  Al-Qadiriyyah Wa al Naqshabandiyyah. Muslim Singapura terbagi kepada dua kelompok besar, yaitu etnis Melayu sekitar 90%. Sisanya adalah etnis non-Melayu (India, Timur Tengah, Indonesia, dan lain-lain) sekitar 10%.
Pendidikan agama Islam di Singapura dijalankan mengikuti tradisi dan sistem persekolahan modern. Sistem tradisional, mengikuti pola pendidikan Islam berdasarkan sistem persekolahan pondok Malaysia dan Patani atau pesantren di Indonesia.

B.    Penutup
Demikian uraian yang telah kami paparkan, melalui makalah ini tentunya kami masih banyak kekurangan, khususnya dalam penulisan maupun penyusunannya, kami mohon kritik dan saran dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Munzir Hitami, 2006, “ Sejarah Islam Asia Tenggara”, Alaf Riau, Pekanbaru.
http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura,
Http://Komunitaswakaf.Org/Web
http://kumtukul.blogspot.com
id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Islam_di_Singapura
muslim.or.id/infokajian/singapura/pengajian-rutin-islam-di-singapura.html
www.antara.co.id/arc/2007/10/27/sekolah-islam-di-singapura-akan-naikan-standar-akademis
www.eramuslim.com/berita/dunia/dianggap-menghina-islam-pengadilan-singapura-tuntut-pasangan-suami-isteri.htm 
www.halamansatu.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=164
Zuhairini, dkk. 1994, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta :Bumi Aksara.